KBR68H

    

Last update06:25:24 AM GMT

Tawa dari Dunia Tanpa Suara

  • PDF

emmy liana (kaos hijau) memimpin yoga ketawaKBR68H - Tuna rungu atau tuli kerap dipandang sebelah mata. Karena selain mereka tidak bisa mendengar, umumnya tuna rungu juga punya gangguan berbicara. Kondisi ini ibarat membebani orang tuli dua kali lipat; beban difabel dan beban cemoohan. Di Yogyakarta terdapat komunitas Waroeng Tuli, sanggar seni yang juga menjadi tempat pelepas stres bagi remaja tuli. Bagaimana orang tuli mengurangi beban pikiran dan mencegah stress? Reporter Agus Luqman menceritakannya untuk Anda.

Yoga Ketawa

Sabtu sore di rumah Broto Wijayanto lebih ramai dari biasanya. Beberapa remaja melakukan senam ringan di depan rumah yang terletak persis di pinggir Kraton Yogyakarta. Seseorang sedang pamer tarian hip hop dengan gaya bebas.

Mereka adalah para anggota Deaf Art Community atau Komunitas Seni Tuli Yogyakarta. Komunitas ini juga sering disebut Waroeng Toeli. Inilah tempat berakhir pekan bagi 30-an anak dan remaja tuli se-Yogyakarta dan sekitarnya. Di sini biasanya mereka berlatih seni teater, free style hip-hop, pantomim, atau puisi gerak isyarat.

Sore itu mereka kedatangan tamu.

Perempuan itu bernama Emmy Liana Dewi, seorang pengajar dan perintis Yoga Ketawa di Indonesia. Dia sengaja datang ke Waroeng Toeli Yogyakarta untuk membantu remaja-remaja tuli itu agar selalu gembira dan sehat.

Arif (kaos kuning) beryoga ketawa"Program ini akan mengajarkan bermain-main untuk olahraga, bergerak sambil tertawa-tawa. Tubuh sehat, pikiran sehat. Bagus untuk melepas stres."

Emmy baru saja bertemu Broto Wijayanto, seniman teater jebolan ISI Yogyakarta yang membantu mendirikan Komunitas Seni Tuli. Rumah Broto-lah yang kemudian dijadikan markas Waroeng Toeli. Broto sempat cerita banyak tentang bagaimana kebiasaan remaja tuli di sana.

"Mereka juga senang nonton film kok Mas. Mereka juga senang jalan-jalan ke Pantai Parangtritis. Mereka ini sama. Mereka punya keinginan yang sama dengan pemuda lain. Hanya saja mereka tidak bisa mendengar, hanya bisa melihat visual. Aku ingin pacaran, aku ingin ke mall, dan lain-lain.”

Kehilangan kemampuan pendengaran merupakan keterbatasan yang kejam, karena bisa menghilangkan kemampuan komunikasi dengan orang lain. Begitulah kata-kata tokoh inspiratif dunia, seorang penulis yang juga seorang buta dan tuli, Hellen Keller.

Dan menurut Broto Wijayanto, salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stress orang tuli adalah tertawa dan bercanda.

"Makanya, dengan saya itu saya ajak ketawa. Saya ajak main-main. Pokoknya saya sama kamu tidak ada bedanya. Kadang mereka bilang ke saya, 'kamu tuli!' Dan aku bilang ke mereka, 'kamu normal'. Kadang-kadang, saya tanya, 'Kemarin aku telpon kenapa sih tidak diangkat?’. Mereka jawabnya, 'maaf saya sibuk.'

Karena itu, Broto menyambut baik tawaran pengajaran Yoga Ketawa dari Emmy. Apalagi, mereka belum pernah tertawa dengan gerakan yoga.

Tertawa lepas menjadi obat mujarabTanpa mendengar apapun, mereka tetap bisa lepas tertawa dan bergembira. Menurut Emmy, dari hasil penelitian para ilmuwan, tertawa lepas bisa memicu pelepasan hormon endorfin. Inilah hormon anti stres yang bisa meningkatkan rasa senang dan mengurangi nyeri.

"Tahu kata morfin? Narkoba? Morfin tidak bagus. Tapi hormon endorfin obat mujarab. Itu sebabnya tertawa disebut obat paling mujarab”, kata Emmy.

Beberapa menit berolahraga Yoga disertai tertawa lepas itu membuat tenggorokan para tuna rungu itu kelelahan. Karena pita suara mereka memang tidak dilatih secara rutin.

"Mereka tidak bisa berbicara karena mereka tidak pernah mendengar. Secara pita suara mereka itu oke. Ketika ibu bilang ha-ha-ha, itu keluar suaranya, tapi mereka sangat capai. Karena kebiasaan kalau ngobrol, itu tidak memakai suara. Pasti sangat capek. Karena tidak biasa mengeluarkan udara dari mulut”, tutur Broto.

Selain sering-sering tertawa, ada cara lain untuk mengurangi stres para anggota Komunitas Waroeng Tuli. Apa itu?

Tertawa Bangkitkan Percaya Diri

Emmy Liana Dewi, perintis Yoga Ketawa, mempraktekkan gerakan kedua tangan ke atas sambil menarik nafas. Lalu tangan diturunkan untuk memeluk diri sendiri, sambil mengeluarkan nafas.

Grafiti nama remaja toeli"Jadi pada saat ada rasa sedih dan merasa sendiri, bisa melakukan beberapa kali latihan terakhir. Karena, yang paling menyintai dirimu adalah kamu sendiri. Sering lakukan gerakan terakhir tadi. Dan ingat, kalian adalah orang-orang yang penuh kasih."

Tanpa suara, keindahan dunia menjadi tidak sempurna. Karena itu tertawa lepas, dan saling berbagi antar tuna rungu menjadi katarsis atau sarana melepas ketegangan. Bahkan, menurut Broto, kekesalan dan amarah bisa ikut mencair dengan cara ini.

“Mereka butuh banyak ngobrol. Bisa dibayangkan kalau kita tidak bisa curhat pada orang lain, itu hanya terpendam, itu akan jadi beban berat. Makanya kalau kita di sini ada latihan atau akan ada pementasan, kalau mereka sedang asyik ngobrol, maka latihan saya batalkan. Silakan ngobrol sampai habis. Karena itu yang mereka butuhkan. Kalau pementasan itu baik-buruk relatif.”

Melalui Komunitas Waroeng Toeli ini, para tuna rungu saling memberi motivasi, khususnya terhadap mereka yang usianya lebih muda. Atau saling membantu terhadap tuna rungu yang selama ini sudah terbiasa pakai alat bantu dengar.

"Kemarin saya baru menemukan satu anak. Sebetulnya tulinya sejak kecil, tapi karena terbiasa pakai alat bantu dengar sehingga masih banyak mendengar kosa kata. Tata bahasa tertata. Dia tidak bisa isyarat. Begitu ke sini dia stres. Kenapa dunia teman-teman saya seperti ini? Karena selama ini dia berhubungan dengan teman-teman normal. Dia memahami bahasa oral dan kalau dialog dia pakai tulisan. Di sini saya tolak bahasa tulisan. Kalau saya menggunakan tulisan, maka bahasa isyarat tidak akan ada lagi. Padahal itu bahasa ibu mereka. Ketika ketemu, dia bingung. Maka dia diajarin."

Ada beberapa remaja yang sudah dianggap sebagai pemimpin para di komunitas ini. Diantaranya Arief dan Fani. Dua orang inilah yang mulai menjadi penjembatan antara teman-temannya dengan orang normal. Karena kemampuan berbicaranya lebih baik dari teman-temannya.

mug desain waroeng toeli“Arif dan Fani itu dua leader yang dahsyat. Kalau ada dua orang normal yang datang, mereka akan mendatangi. Dan Arif akan berusaha ada suaranya. Dia paham kapan harus bersuara dan kapan tidak. Dia akan membantu. Dia akan selalu mengatakan, 'ndak apa-apa, pelan-pelan'."

Di Komunitas itu ada ruang kecil yang disulap menjadi tempat jualan barang-barang hasil kreatifitas anak-anak tuli. Saya menemui Arief yang sedang menjaga warung.

Arif menunjuk beberapa gelas mug, dan menyebut harganya Rp 90.000. Arif belum menikah.

Arif adalah pilot alias pemimpin Komunitas Seni ini. Ia lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Keinginannya untuk kuliah kandas karena tidak diterima ujian masuk.

Sementara beberapa menjaga warung, ada beberapa yang lain sedang santai di bawah pohon. Mereka sedang asyik di depan komputer jinjing, melihat cuplikan video iklan yang menceritakan perjuangan seorang tuli untuk bermain biola.

Video iklan itu sebetulnya sudah berkali-kali mereka tonton, namun masih sering menjadi sumber kekuatan bila mereka dalam kondisi stress atau semangat anjlok.

Broto Wijayanto, pun tetap tersenyum lebar dan semangat mendampingi para tuna rungu itu. Meski tanpa gaji.

"Ini panggilan jiwa. Dan mereka menganggap saya sebagai saudara sendiri, dan saya juga menganggap mereka saudara. Kalau pekerjaan itu saya dapat gaji setelah itu ada rutinitas. Ini tidak. Berkembang. Seperti saya hidup dengan istri saya, anak-anak saya. Jadi ini juga keluargaku."

Audio:

Tags:     tuna rungu      warung toeli      yogyakarta

blog comments powered by Disqus