KBR68H

    

Last update06:25:24 AM GMT

Sejumput Mimpi dari Dunia Tanpa Suara

  • PDF

menonton film tuliKBR68H - Indonesia diperkirakan ada sekitar enam juta orang hidup dalam suasana sunyi. Setiap hari selama bertahun-tahun, harus mereka lewatkan dalam suasana tanpa suara. Mereka biasa disebut tuna rungu, atau tuli. Mereka kerap dianggap aneh dan terdiskriminasi secara tidak langsung. Reporter Agus Luqman mengajak Anda ke Warung Tuli di Yogyakarta, sebuah tempat dimana kita bisa mengenal sedikit bagaimana dunia dan budaya tuli.

Warung Toeli

Tidak jauh dari kompleks Kraton Yogyakarta, di sebuah rumah kecil di ujung gang. Rimbun pepohonan membuat siang yang terik tidak terasa menyengat kulit.

Suara derai tawa dan celotehan berkali-kali terdengar dari sebuah ruangan kecil. Enam atau tujuh remaja ternyata sedang asyik menonton dan mengomentari film yang diputar di komputer.

Hanya, maaf, kemungkinan Anda tidak akan paham apa yang mereka ucapkan. Karena mereka tidak berbicara dengan mulut, melainkan dengan tangan. Mereka berbicara dengan bahasa isyarat.

Mereka sedang menonton film Asia berjudul ‘Hear Me’, atau ‘Dengarkan Aku’. Film itu bercerita tentang suka duka hubungan orang normal dengan orang tuli.

Berbincang dengan bahasa isyarat"Setiap kali ada film, jika menemukan film yang ada hubungannya dengan tuna rungu, saya pasti akan nyetelkan ke mereka. Dan kadang mereka bawa. Terus nanti kita sama-sama melihat. Jadi kita menemukan film Cina apa Hongkong, judulnya Hear Me. Itu tentang seorang teman tunarungu, dan di situ ada banyak bahasa isyarat. Dan sambil melihat mereka ooo itu isyaratnya di sana itu begitu."

Itu tadi suara Broto Wijayanto, seorang seniman teater, lulusan Institut Seni Indonesia atau ISI Yogyakarta. Ia mengaku dirinya sebagai sahabat atau teman orang tuli.

"Saya sekarang jadi guru honorer di sebuah sekolah menengah kejuruan kesenian. Saya guru teater. Dulu, saya mahasiswa ISI, teater juga."

Selama bertahun-tahun, Broto Wijayanto merelakan sebagian ruangan rumahnya digunakan untuk tempat berkumpulnya anak-anak tuli. Ia juga merelakan sebagian besar hari-harinya untuk menemani dan menjadi sahabat bagi remaja-remaja tuli dari Yogyakarta dan sekitarnya.

"Ini rumah kami. Judulnya Waroeng Toeli. Komunitas kami namanya Deaf Art Community. Waroeng Toeli ini berdiri 7 Desember kemarin. Setelah sekian lama. Kelahirannya menetapkan, yaitu pertama kali kami bikin pementasan seni yaitu 28 Desember 2004. Sudah lama sekali. Tapi ya kadang ada kegiatan kadang tidak. Nah, di tiga empat tahun terakhir kami cukup intens untuk berkumpul."

Deaf Art Community atau Komunitas Seni Tuli kini menjadi rumah aktivitas bagi sekitar 35 tuna rungu, mulai yang sekolah SD hingga kuliah. Ada Arief, Fani, Ahmad, Lia, Devi dan lain-lain.

Arief berkaus kuning dan Broto Wijayanto berkaus biruSetiap akhir pekan, mereka berlatih pantomim, free style hip-hop, hingga puisi isyarat atau puisi tanpa suara. Melalui seni teater, Broto ingin membuat remaja-remaja tuli itu mandiri dan percaya diri.

“Karena mereka mengibaratkan  diri mereka seperti ulat, yang orang melihat pasti jijik dan ingin dijauhi. Waktu itu soal ulat bulu, Arif bertanya sama saya, 'Pak, ulat bulu itu jijik ya? Ya, banyak orang jijik, karena bikin gatal. Tuli itu seperti ulat ya Pak? Saya kaget. Kenapa? Karena banyak orang jijik melihat kami. Orang tidak suka melihat kami. Saya juga cerita, ulat itu nanti suatu saat akan jadi kupu-kupu. Nanti berubah jadi kepompong, lalu jadi kupu-kupu. Dia mikir sendiri, beberapa saat, saya biarkan. Lalu, Pak, aku ingin menjadi kupu-kupu. Kenapa? Karena tuli itu seperti ulat. Nanti aku akan berpikir dan merenung untuk bisa mengasah kemampuanku, sehingga suatu saat aku nanti menjadi kupu-kupu. Biar semua orang suka kepada tuli.”

Saya kesulitan mewawancarai para remaja tuli itu karena gangguan komunikasi. Termasuk ketika saya mewawancara Arief, yang saat ini menjadi pilot atau pengemudi organisasi Deaf Art Community. Arief membaca gerakan bibir saya untuk mendengar. Sedang saya mencoba memahami suara yang coba ia keluarkan.

Teater yang paling disukai apa?

“Teater, tari.”

Tari apa?

Poster pentas seni komunitas tuli“Hip hop. Bahasa visual. Bahasa isyarat.”

Mempelajari bahasa isyarat untuk orang tuli seperti mempelajari bahasa baru. Ada isyarat untuk mengeja abjad huruf A, B, C, D hingga Z. Ada isyarat untuk angka. Ada juga isyarat untuk kegiatan sehari-hari. Seperti meletakkan telapak tangan di dada sambil tubuh membungkuk merupakan ungkapan terima kasih. Atau dua tangan bersilang di depan dada merupakan ungkapan kasih sayang atau cinta. Ada juga isyarat untuk memberi nama orang. Saya mendapat nama isyarat berupa jempol dengan sentuhan di janggut sebagai nama saya.

"Itu isyarat untuk njenengan (kamu -red). Kalau saya isyarat saya begini, B, karena perut saya besar. Jadi nama isyarat itu dibentuk berdasarkan ciri fisik masing-masing."

Lewat Warung Toeli mereka membangun mimpi. Apa itu?

Mimpi Warung Toeli

Berkomunikasi dengan orang tuli seperti Arif jelas tidak mudah. Mereka tidak bisa mendengar ucapan orang, sementara orang umumnya tidak paham bahasa isyarat mereka. Itulah yang dialami Broto Wijayanto ketika pertama kali terjun ke dunia aktivis tuli.

Beruntung Broto menguasai seni pantomim, seni tanpa suara. Broto pun mudah melebur dalam dunia tuli yang sunyi.

“Ketika saya bermain pantomim, semua antusias. Semua sangat senang. Dan saya tiba-tiba sangat dekat mereka. Dunia gathuk. Dan akhirnya saya mengibarkan bendera, tidak ada alasan saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya dengan bahasa tarzan, saya ngobrol dengan mereka. Dan mereka sudah merencanakan malam pementasan untuk menghibur tuna rungu. Saya akhirnya melebur, melatih, tiga bulan proses. Akhirnya sedikit banyak saya paham. Saya tidak belajar dari kamus, tapi dari mereka. Huruf ABCD sampai Z, belajar dari mereka. Akhirnya kosa kata saya tambah terus."

abjad bahasa isyaratMelalui Deaf Art Community, Broto membuka tempat bagi siapapun untuk mengenal seperti apa dan bagaimana kehidupan orang tuli. Mereka pun seperti remaja pada umumnya, senang menonton film, melihat pemandangan, pacaran, ke mall, dan lain-lain.  Hanya saja dunia mereka adalah dunia visual tanpa suara. Bahkan mereka pun tidak bisa mendengar suara tertawa mereka sendiri, atau suara tepuk tangan sendiri.

"Betul, jadi kita teriak-teriak juga mereka rileks. Di sini kita semua rileks, tanpa suara", lanjut Broto.

Kesempurnaan atau manusia sempurna adalah istilah yang menyakitkan bagi mereka. Namun dengan dunia yang hanya mengandalkan visual atau pandangan mata, para remaja tuli sangat sensitif dengan apapun yang mereka lihat. Perubahan sedikit pun pada seseorang sudah bisa mereka rasakan---terutama perubahan saat memandang mereka.

"Kalau saya bilang ke mereka, 'kamu apa yang kamu inginkan dari orang-orang di sekitarmu?' Jawabannya macam-macam, tapi endingnya adalah, 'mereka butuh senyuman.' Orang tersenyum itu menenangkan hati mereka. Daripada orang melihat dengan wajah flat, ngelirik sedikit. Makanya, sempurna adalah kata-kata yang menyakitkan seperti tombak yang menusuk ke dada kami."

Komunitas Seni Tuli sudah berkali-kali menggelar pentas seni. Mereka juga kerap diundang pentas dalam acara-acara tertentu, misalnya untuk pentas puisi isyarat, tari hip-hop, seni sulap hingga pantomim. Honor undangan pentas kemudian masuk kas untuk mendanai pentas seni berikutnya. Broto Wijayanto juga kerap mendapat honor sebagai penerjemah.

“Saya kan dapat ilmu interpreter. Bisa bahasa isyarat. Saya dipanggil beberapa LSM yang sering mengadakan acara untuk tuna rungu, saya dapat duit. Duitnya kan untuk ini. Saya bilang, ilmu saya dari mereka, maka hasil itu saya kembalikan ke mereka. Mereka bisa pentas, bisa apapun ya dari itu."

kaus desain waroeng toeliSelain itu, Komunitas Seni Tuli juga membuka Waroeng Toeli, untuk menjual kerajinan mereka. Mereka membuat gelas mug, kaus, gantungan kunci, dan beragam kerajinan lain yang mengekspresikan dunia tuli. Dana yang terkumpul nanti untuk membiayai pentas seni berikutnya.

"Pada suatu hari ada seseorang yang bertanya pada saya, 'Mas, mimpi mereka itu apa? Pak, mereka itu suka pentas. Dan mimpi sekarang adalah pentas di gedung terbesar di Taman Budaya. Orang ini ternyata orang kaya. Kemudian dia bilang, 'Mas saya pribadi akan membayar gedung itu untuk pementasan anak-anak.’ Saya menangis duluan. Saya terjemahkan ke mereka, dan mereka menangis karena mimpi mereka jadi kenyataan. Maka pentas itu kita gratiskan, karena sasarannya untuk teman-teman difabel. Terus, itu pentas perwujudan dari mimpi mereka."

Kepada saya, Arief, Fani dan teman-temannya mempersembahkan sebuah pentas puisi. Puisi yang berisi gerak isyarat, tanpa kata-kata.

Broto Wijayanto menerjemahkan puisi itu.

 

Apa salah kami lahir di dunia ini.

Kami juga lahir dari buah cinta yang sama.

Sama seperti mu, anak-anak Adam dan Hawa.

Sempurna adalah kata-kata yang menyakitkan.

 

Apa salah kami lahir di dunia ini.

Kami juga lahir dari buah cinta yang sama.

Sempurna hanya untuk orang normal,

sementara tidak sempurna itu untuk teman-teman tuli.

 

Apa salah kami lahir di dunia ini.

Tapi kami masih yakin,

bahwa kita semua ada kemampuan.

 

Jika Anda ingin lebih dekat lagi dengan mereka, datanglah ke mari, ke Langerjan Lor, Panembahan, Kraton, Yogyakarta, setiap Sabtu dan Minggu. Rasakan bagaimana suasana dunia yang sunyi ternyata tetap membuat  mereka masih punya mimpi.

Audio:

Tags:     tuna rungu      warung toeli      broto wijayanto

blog comments powered by Disqus