KBR68H

    

Last update06:25:24 AM GMT

Pesantren Gratis Berjiwa Entrepreneur

  • PDF

Daryanto Mempersiapkan Roti Untuk Para SantriKBR68H - Syekh Habib Saggaf tak perlu suasana pemilu dan janji politik untuk memberikan pendidikan gratis. Lewat Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, ia memberikan pendidikan gratis kepada lebih dari 18 ribu pelajar di Bogor, Jawa Barat. Pesantren itu dijalankan dengan gaya kewirausahaan untuk mendukung program pendidikan gratis tersebut. Reporter KBR68H Rony Rahmatha mengunjungi pesantren ini dan menuliskan laporannya.

Pabrik Roti di Pesantren

Suara mesin diesel menandakan pabrik mini yang memproduksi roti itu sedang bekerja. Sedikitnya 8 ribu roti sedang dibuat saat itu.

Pabrik roti ini berada di dalam lingkungan  Pesantren  Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Jawa Barat.

Manajer Pabrik Daryanto yang juga seorang santri mengatakan, semua santri mendapatkan jadwal rutin untuk belajar pengolahan roti.

“Ada yang di sini tetap, itu ada 18 orang yang mengajarkan. Untuk tiap hari, untuk operasional dari Tsanawiyah, Aliyah dan Jamiah. Itu dari Jamiah itu 3 orang, dari Aliyah 7 dan dari tsanawiyah itu ada 3 orang. Itu sebagai pembelajaran saja, jadi nantinya kalau sudah keluar mereka sudah bisa untuk bikin roti.”

Roti yang dibuat ini akan dijual kembali ke lingkungan pesantren. Omsetnya sekitar Rp 8 juta setiap harinya dengan rata-rata produksi mencapai 10 hingga 15 ribu roti bakar.

Antri Beli Roti di KoperasiSebagian roti yang dijual disubsidi oleh pesantren, hingga harganya lebih murah, yakni hanya Rp 500. Pemimpin Pondok Pesantren,  Ummi Waheeda.

“Setelah berjalan lama, tambah banyak murid. Habib berfikir, orang banyak pasti perlu roti atau susu, daripada kita beli atau keluar uang, lebih baik kita buka usaha sendiri. Daripada kita beli roti yang harga di luar Rp 1000, di pondok kita bisa buat sendiri, kita jual harga Rp 500, bagi yang tidak dapat kiriman, atau benar yatim piatu, maka kita gratiskan, masih bisa subsidi.”

Ide mendirikan pabrik ini muncul dari Syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Assyekh Abi Bakar bin Salim. Lebih akrab dipanggil Abah atau Habib. Ialah yang mendirikan pesantren ini dan menjalankan kewirausahaan di sana.

Setahun lalu Syakh Habib Saggaf meninggal dunia. Pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh Ummi Waheeda, istrinya.

Pabrik roti ini berdiri berkat hasil usaha daur ulang sampah. Ini adalah unit usaha yang pertama kali dikembangkan oleh pesantren. Kembali Ummi Waheeda.

“Asal usul daur ulang, waktu itu dengan 10 ribu siswa-siswi dengan sampahnya itu begunung-gunung. Waktu itu kebiasaan di sini, mereka suka bakar sampah. Saya alergi berat, ya namanya asap saya pasti pilek. Akhirnya saya bilang ke habib, kalau di luar itu kan ada daur ulang, yuk kita lakukan itu juga. Kita mulai kumpul sampah dan dijual. Bayangkan kita dapat dari hasil daur ulang itu, plasmanya sekitar Rp 20 juta, itu modal utama kita untuk bikin pabrik roti. Jadi bisa bayangkan, dari sampah akhirnya bisa modal pabrik roti.”

Sudut Pabrik Roti Ponpes Al-Ashhriyah Nurul ImanManajer Unit Daur Ulang Muhammad Tholib, yang juga seorang santri, mengatakan, dari unit daur ulang sampah omset yang didapatkan sekitar Rp 3-4 juta per bulannya.

“Jadi setiap hari ada tim yang bersih-bersih. Setiap pagi mereka akan keliling, terus kita sortir mana yang bisa didaur ulang. Kan ada sampah organik dan non organik. Nah sampah-sampah yang bisa dikelola dan bisa dijual seperti kardus, kertas kita kumpulin. Kemudian kita juga kerjasama dengan asrama-asrama, mereka setiap harinya juga mengumpulkan dan setiap minggu kami ambil pake karung.”

Kini pengolahan sampah sudah dengan mesin, sehingga nilai jual daur ulangnya semakin tinggi di pasaran. Dari semula dihargai 3-4 ribu per kilogram, menjadi 3 kali lipatnya.

Kata Ummi, sejak punya mesin penggiling, saat ini para pemulung di sekitar Parung juga men-drop sampah mereka ke pesantren.

Berbekal unit-unit usaha yang dikelola langsung oleh para santri inilah akhirnya pemimpin pesantren bisa memberikan pendidikan gratis. Gagasan ini awalnya dicetuskan oleh pendiri ponpes Syekh Habib Saggaf.

“Habib banyak anak perempuan daripada anak perempuan ini banyak di luar, maka dia ingin didik sendiri. Terus datang dari Jawa seorang anak laki-laki kepingin mondok. Terus dari daerah sini. Jadi lama-lama dari pondok yang hanya 200 saja, tapi semuanya harus gratis, terus bertambah. Bagi habib, ilmu pengetahuan itu hak bagi setiap manusia, mau mampu atau tidak, mau sakit, tapi itu adalah kewajiban bagi kita untuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain”, kata Ummi Waheeda.

Setahun setelah Habib Saggaf meninggal, Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman tetap mengupayakan kewirausahaan berjalan. Cita-cita memberikan pendidikan gratis harus diteruskan.

Tantangan Pendidikan Gratis

Berbeda dengan pesantren pada umumnya yang lebih banyak memberikan pelajaran bahasa Arab dan Inggris, di pesantren ini sudah setahun terakhir santri juga dibekali bahasa Mandarin.

Santri Bersiap Makan SiangSalah seorang santri Radiansyah menceritakan cara belajar bahasa Mandarin lewat nyanyian.

“Belajar Bahasa Mandarin. Itu adalah nyanyian kami, kami belajar lagu bahasa mandarin kami download dari teman-teman kami yang ngasih tahu situsnya. Langsung kami cari, langsung kami praktekkan. Lagunya tentang teman yang berbahagia.”

Radiansyah pun menunjukkan kemampuannya berbahasa Mandarin.

Menurut Radiansyah, pelajaran bahasa Mandarin sedang diusulkan santri agar masuk dalam kurikulum pesantren.

“Sebenarnya kurikulum bahasa Mandarin di sini itu belum ada. Cuma kami itu berantusias belajar bahasa Mandarin untuk supaya diadakan di sini. Dari kurikulumnya supaya diresmikan. Kami itu berusaha supaya diresmikan di sini.”

Kemampuan pengembangan diri adalah satu dari sekian strategi pesantren mengembangkan potensi santri. Sesuai dengan cita-cita awal, pesantren boleh gratis, tapi tetap berkualitas.

Ketika Habib Saggaf, pendiri ponpes, meninggal tahun lalu, Ummi Waheeda, istrinya, Khawatir tak mampu melanjutkan pendidikan gratis.

“Saya bilang sama habib, kita tidak bisa terima terus. Habib bilang nggak apa-apa Waheed. Setiap anak yang datang itu membawa rezki masing-masing, itu keyakinan habib. Terus habib bilang, Insya Allah kalau kita jujur dan ikhlas, pasti Allah akan memberikan kita rizki, ketika anak itu datang ke sini dan mereka betah dan bertahan di sini, berarti kita harus memberikan mereka pendidikan, makan, semua gratis.”

Berbekal pesan itu, Ummi terus berupaya mengembangkan unit usaha pesantren untuk membiayai pendidikan gratis di ponpes itu.

Namun untuk memenuhi kebutuhan pangan para santri, Ummi menanti realisasi bantuan yang dijanjikan pemerintah.

“Saya sedikit kecewa dari dinas sosial untuk beras. Kita kan satu hari itu harus masak 6 ton beras. Kita punya sawah 100 hektar di Karawang tapi tidak cukup untuk 18.000 orang. Kita baru bisa cukup kalau sudah 500 hektar. Jadi saya minta ke dinas sosial, kalau mereka tidak kasih gratis, kita mau beli beras raskin. Tapi surat itu tidak pernah turun. Padahal surat itu perlu untuk rekomendasi menko kesra ke bulog. Padahal mensos sudah 2 kali ke sini.”

Tumpukan Barang Daur UlangSampai kini Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman masih cukup beruntung karena ada bantuan beras dari Yayasan Budha Suci. Setiap bulannya mencapai 50 ton.

Koordinator Relawan Yayasan Budha Suci Indonesia, He Ming megatakan, bantuan ini sudah berjalan selama 10 tahun terakhir.

“Bantuan dari Yayasan Budha Suci dari Taiwan, memang diberikan langsung sebulannya 50 ton. Beras ini berasal semua dari Taiwan, itu bukan yayasan yang beli, itu sumbangan Budha Suci yang berpusat di Taiwan. Berasnya asli dari Taiwan, tidak beli di Indonesia, baru disumbangkan, jadi asli dari Taiwan.”

Datangnya bantuan dari Yayasan Budha Suci ini merupakan praktek sifat pluralisme yang diterapkan Habib Saggaf, kata Pengamat Pendidikan Agama Abdul Moqsit Ghazali.

“Saya kira Habib itu salah satu tokoh Islam yang perlu diteladani. Kehidupan sehari-harinya bisa menjadi contoh bagaimana menjadi muslim yang baik. Menjadi muslim bagi seorang habib bukanlah harus menjadi muslim eksklusif, yang tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, atau agama lain. Tapi muslim yang baik, adalah selalu menunjukkan dirinya bukan hanya di depan umat Islam tapi di depan umat lainnya. Nah karena Habib, dikenal sebagai tokoh pluralis, maka kerjasama dengan umat agama lain bukanlah sesuatu perkara yang tabu.”

Abdul Moqsit Ghazali menambahkan, pendidikan gratis di Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman berbeda dengan yang diterapkan sejumlah sekolah, baik sekolah agama ataupun sekolah swasta. Itu karena kemandirian ponpes lewat kewirausahaan.

“Saya kira karena habib telah meletekkan pondasi perekonomian yang cukup kuat, misalnya ada perusahaan yang dikelola oleh Habib, saya kira tidak ada masalah yang berarti. Begitu juga pengelolaan sistem pengajaran di pesantren. Karena banyak ustad yang hidup di sini dan bisa bekerjasama di sini. Ini akan tetap bertahan.”

Ani Rofiastuti, salah seorang santri perempuan yakin Ummi Waheeda mampu melanjutkan cita-cita Habib Saggaf.

“Prinsip Ummi, bahwa di sini, pondok ini adalah free and high quality. Jadi walapun gratis, tapi tetap mengedepankan pada kualitas. Dan ini sudah terbukti bahwasanya, setelah belajar di sini, nantinya bakal jadi pemimpin, pengusaha dan menjadi pendidik.”

Cita-cita itu akan diteruskan atas wasiat Habib Saggaf, sang pendiri, tutup Ummi Waheeda.

“Jadi sebelum Abah sakit, abah jabat tangan dengan saya. Waheed, saya amanat pondok ini buat kamu. Kamu harus berjanji bahwa pondok ini sampai kiamat tetap gratis dan kualitas pendidikannya harus tinggi dan bermutu. So far sudah lebih setahun habib meninggal, Alhamdulillah anak-anak tetap makan dan tetap sekolah.”

Audio:


blog comments powered by Disqus