KBR68H - Yulianus Rettoblaut, seorang waria, dan Dede Oetomo, aktivis homoseksual, mencalonkan diri menjadi komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Komnas HAM. Banyak orang tertawa, bahkan menganggapnya sebagai hiburan semata. Tapi Mami Yuli, begitu ia biasa disapa, bakal membuktikan kalau waria juga bisa menduduki jabatan elit di lembaga negara. Begitu pula Dede, mereka bahkan sudah punya ancang-ancang untuk memperjuangkan hak-hak warga miskin dan kaum minoritas. Mampukah mereka? Reporter KBR68H, Quinawaty Pasaribu menyusun kisah perjuangan mereka.
Sadar Hukum, Perjuangkan HAM
“Keberanian muncul ketika kita berbenturan dengan kasus-kasus hukum. Iya, karena saya kan sebagai ketua FKWI jadi saya punya beban ketika teman-teman yang selalu bertanya kenapa kasus ini gak selesai? Jadi kalau gak selesai, orang jadi mengangap waria ini gampang banget dibunuh. Kayaknya lebih berharga nyawa ayam dari pada nyawa kita. Tapi aku bisa berbuat apa? Kalau aku gak punya intelektual, terus apa yang bisa aku lakukan?”
Ini adalah kali kedua Yulianus Rettoblaut mencalonkan diri menjadi Komisioner Komnas HAM. Pada 2007 lalu ia gagal di tahap uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
Kali ini Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia FKWI itu lebih yakin.
“Sebetulnya keyakinan ada, yang jadi andalan hanya basic intelektual. Karena pada 2007 belum jadi sarjana atau gak punya pengetahuan khusus soal hukum. Tapi sekarang aku berani karena aku sudah mengenggam gelar sarjana hukum kemudian sosialiasi dengan LSM sehingga jadi paham bahwa saya mampu membela hak orang lain.”
Selepas kegagalan pada 2007 lalu, waria berusia 50 tahun ini tak menyerah.
“Sebenarnya sih persiapan mulai sejak aku gagal dulu, makanya yang paling mendasar basic pendidikan karena gak punya embel-embel pula. Udah waria pula, gak punya pendidikan, apa sih yang bisa aku banggakan? Tapi ketika aku punya embel-embel di belakang, orang bisa bilang ‘ooo… transgender juga bisa sekolah.’ Dan setelah itu, orang bisa memperhitungkan kita. Dan aku yakin, kita kan punya agama, dan Tuhan gak mungkin tutup mata kalau kita mau membantu banyak orang.”
Kini Yulianus sudah bergelar Sarjana Hukum dari Universitas Islam At-Tauriyah Jakarta Selatan.
Yulianus Rettoblaut, atau akrab disapa Mami Yuli, lahir di Famborep, Asmat, Papua, pada 31 April 1961. Kedua orangtuanya Petrus Rettoblaut dan Paskalina Hurulean mendidik Yulianus dengan disiplin tinggi dan taat beragama.
Perasaan menyukai laki-laki muncul ketika usianya 12 tahun.
“Tadinya kan, pemahaman saya tentang waria sedikit, tahunya saya punya penyakit.”
Jadi gak tahu?
“Gak tahu… di Jakarta baru ngerti, kalau di daerah, saya pikir punya penyakit aneh kok bisa demen laki. Di sini, aku tahu menemukan, makanya berhenti kuliah. Kemudian berhenti kuliah, aku dibenci keluarga dan aku ambil keputusan, aku harus cari tahu sebenarnya perasaan ini sampai akhirnya jadi PSK selama 17 tahun. Sampai 1997 aku berhenti, aku kembali ke jalan yang baik dengan mendekati romo Katolik karena aku kan Kristen katolik. Di sana aku mulai bertumbuh.”
Dengan bantuan Gereja Katolik Stefanus Jakarta Selatan, Mami Yuli berhasil mengajak teman-teman warianya menjauhi pekerjaan sebagai pekerja seks dan beralih ke kegiatan sosial.
Di rumahnya, ia membuka salon dan menjaring waria-waria berusia muda untuk belajar keterampilan kecantikan.
“Nama saya Laras, kerja saya di bidang kecantikan salon, make up.”
Mba Laras kenal dengan Mami Yuli sejak kapan?
“Sejak aku ke Jakarta sudah kenal, kira-kira 10 tahun lalu.”
Mami Yuli sosok seperti apa?
“Dia konsekuen, tanggungjawab, mendidik, bagus lah untuk mengayomi anak-anak di sini.”
“Nama saya Wiwik, usia saya 37, asal saya Malang. Saya kenal dengan Mami Yuli udah lama sejak 2004-2005 dia sosok yang low profile dia tidak suka dengan kekerasan, tapi memakai otak untuk memimpin teman-teman kalau ada yang masalah dengan Satpol.”
Begitu pula dengan Merlyn, waria yang pernah mencalonkan diri menjadi Walikota Malang pada 2009 lalu.
“Dalam kepemimpinan beliau sudah beberapa tahun memfasilitasi teman-teman untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat, terutama waria di Jakarta dan Indonesia. Jadi secara sosok beliau berkompeten untuk itu.”
Lewat FKWI Mami Yuli mencoba mengubah pandangan negatif terhadap waria, lewat berbagai kegiatan dan pemberdayaan. Tapi itu pun masih kurang.
“Kita kemudian bisa bikin kegiatan yang menyangkut hukum dan HAM. Itu juga masih didemo waktu di Depok, masih juga salah. Makanya aku kadang bingung, kita musti gimana, buat yang bener salah, yang salah apa lagi. Jadi tapi aku sadar itu proses, memang gak gampang. Jadi ini proses yang dikasih Tuhan. Ini sudah dibentuk Tuhan, karena gak segampang itu.”
Diskriminasi itulah yang menguatkan tekad Mami Yuli untuk mencalonkan diri kembali menjadi Komisioner Komnas HAM. Dukungan pun mengalir.
“Yang pasti akan dukung memberikan motivasi dan semangat supaya Mami Yuli tetap membela bukan kaum transgender saja tapi semua warga negara Indonesia. Ini lho, seorang transgender bisa masuk ke Komnas HAM”
“Saya sangat mendukung 100 persen. Alasannya, karena waria ini banyak yang dilecehkan oleh masyarakat, gak diakui, banyak dilecehkanlah. Kalau Mami Yuli masuk ke Komnas HAM, jadi ada pandangan orang ke waria dan waria jadi tidak dilecehkan lagi.”
“Kalau masalah nanti kemudian akan berjuangkan waria, itu bagian dari perjuangan, artinya memperjuangkan hak semua orang. Tapi itu bukan prioritas, karena kalau kita hanya memprioritaskan waria saja, orang akan lihat kita hanya punya tujuan yang satu, misalnya mengenai transgender. Itu gak akan membuat orang simpatik, malah ‘ah elu hanya perjuangkan nasib sendiri’. Nah saya gak mau begitu.”
LGBT Berjuang
Mami Yuli tidak sendirian. Aktivis homoseksual Dede Oetomo juga mendaftarkan diri menjadi Komisioner Komnas HAM.
Di hari terakhir pendaftaran, Dede Oetomo, aktivis homoseksual, mengirimkan surat pendaftaran ke Komnas HAM. Dede menolak dianggap hanya mewakili kelompok gay. Ia mendaftar karena telah lama bergelut di dunia HAM.
“Biar pun memang saya dari satu segmen golongan tertentu, dalam hal ini golongan yang memperjuangkan hak seksual. Nantinya akan lebih umum, jadi kita main di dua dimensi. Satu hak sipil dan politik, berbicara, dan hak ekosop.”
Dede berusia hampir 60 tahun. Sejak 1998 ia mendirikan dan memimpin organisasi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender.
Sementara Mami Yuli ingin memperjuangkan hak-hak waria sebagai manusia.
“Aku pikir yang harus aku lakukan bagaimana aku bisa menyelamatkan teman-teman agar bisa menjadi baik. Karena sudah cukup lama kok transgender ini tersiksa, menjadi korban. Aku akan perjuangkan itu, bukan untuk transgender diakui, tapi haknya sebagai manusianya dipenuhi.”
Yah, hak waria untuk bersekolah maupun bekerja adalah dua hal yang diperjuangkan Mami Yuli.
“Tapi kalau kita lihat angka, istilahnya angka yang kita dapati hampir 90 persen waria yang ada di 5 kota adalah urban. Karena penolakan dan pengusiran, pendidikan mereka paling minim 2 SD.”
“Kalau pekerjaan sendiri yang aku lihat, transgender itu, karena mereka ini disktor non-formal kebanyakan di salon, kalau kerja di salon besar harus potong rambut, mereka gak mau ada yang berdandan perempuan. Kemudian, mereka yang punya pendidikan cukup, ketika berdandan perempuan diusir dari kantor. Ketahuan mereka ada ngondek-ngondek ada gelagat waria, juga dikasih surat pemberhentian.”
Syarat Sama untuk Semua
Ketua Pansel Komnas HAM, Jimly Ashidiqie memastikan, waria memiliki peluang yang sama dengan heteroseksual, dan kelompok LGBT lainnya. Selama mereka memenuhi syarat: pendidikan minimal S1, usia di atas 35 tahun, serta berpengalaman dalam membela hak asasi manusia.
“Sebagai isu, itu kan seluruh dunia hangat, walau kita gak suka bencong-bencong, waria, kadang kita melihat, ini bagaimana manusia kayak gini, tapi dia kan manusia. Persoalan kita menyangkut aspek kemanusiaan, walau kita gak suka, tapi nyatanya ada. Di mana-mana ada, di seluruh dunia ada. Kalau ada golongan ini mendaftar nah itu menarik juga, tapi harus memenuhi syarat.”
Jimly Ashidiqie mendukung pencalonan Mami Yuli dan Dede Oetomo. Bahkan keduanya lolos tahap pertama seleksi administrasi. Hanya saja, ia khawatir kalau DPR bakal memakai kacamata politisnya untuk menyingkirkan aktivis waria ini.
“DPR biasanya suka pertimbangan politik, nah itu biasanya jadi masalah. Kasihlah kesempatan supaya logika keadilan mendapat tempat, jadi tak usah cari orang titipan. Kalau logikanya begitu, para politisi tidak perlu berpikir sempit tapi berpikir luas untuk kepentingan bangsa. Kita perlu lembaga yang merepresentasi kepentingan marjinal untuk memperjuangkan HAM.”
Hingga waktu penutupan pada 31 Januari lalu, pansel Komnas HAM menerima 312 nama pendaftar. Dari situ akan disaring 30 nama untuk diboyong ke DPR. Oleh DPR akan dipilih menjadi 15 nama untuk ditetapkan menjadi Komisioner Komnas HAM.
Mami Yuli dan Dede Oetomo pun tak gentar jika sosok mereka menjadi sandungan nantinya.
“Sebetulnya masalah itu jadi perhatian, tapi harus legowo. Kita jangan orientasi seksual, tapi kita warga negara yang punya hak. Kalau segala sesuatu di lihat ke situ gak ada habisnya”, kata Mami Yuli.
“Kalau saya dipersoalkan karena saya gay, karena saya ini terbuka kan? Itu sudah menunjukkan para anggota dewan yang terhormat itu tidak mengerti HAM. HAM itu universal berlaku untuk semua orang. Nah kalau ada anggora dewan, mudah-mudahan gak ada. Rekam jejak saya dalam memperjuangkan HAM kurang cukup, oke saya terima. Tapi kalau identitas saya dipersoalkan itu sudah sangat menyedihkan, karena mereka tidak mengerti HAM”, sambung Dede Oetomo.
Sementara itu, teman-teman waria menitipkan pesan kepada Mami Yuli agar disampaikan ke politisi Senayan jika sampai melangkah ke DPR.
“Buat PR Mami Yuli, untuk ke orang-orang birokrat, supaya transgender berhak untuk medapatkan kesehatan, memberikan hak untuk lapangan pekerjaan, selama ini di Indonesia belum ada transgender yang mau diterima pekerjaan yang layak, boleh sih ada, tapi kita gak boleh dandan”, kata Wiwik.
“Yang pertama mengangkat derajat waria biar setara dengan masyarakat”, sambung Laras.
“Dan harapan saya ke depan untuk kali ini, beliau lebih tegas memberikan wacana buat masyarakat terutama untuk penguji kalau sampai lolos ke fit and propoer test, bahwa yang diperjuangkan tidak hanya isu LGBT, boleh beliau mewakili komunitas transgender, tapi kan di Komnas Ham bukan hanya minoritas yang diperjuangkan, bukan hanya lesbian, gay, transgender, biseksual, tapi juga semua orang”, tutup Merlyn.
Audio:




