KBR68H - Awalnya obrolan santai tentang pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan dan korupsi sistemik di wilayah timur Indonesia. Kemudian terbentuk gerakan budaya, Vote - Voice from the East atau Suara dari Timur. Musisi Glenn Fredly bersama aktivis Kontras menggalang gerakan ini untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kondisi nyata di timur Indonesia. Kemiskinan dan keterpurukan akibat eksploitasi modal terhadap alam. Minggu lalu, kampanye Suara dari Timur bergulir untuk kali pertama di Jakarta. Reporter KBR68H Damar Fery Ardian ada di sana.
Keprihatinan untuk Timur Indonesia
“Aku adalah Papua, aku adalah Maluku, akulah Nusa Tenggara suara dari kemiskinan. Yang tak pernah berujung semenjak Republik ini berdiri. Tanah kami tanah kaya, laut kami laut kaya. Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tetapi bukan kami punya. Semua anugerah itu, kami hanya berdagang buah-buah pinang.”
Edo Kondologit, penyanyi kelahiran Papua merujuk syair lagu Suara Kemiskinan ciptaan almarhum Frangky Sahilatua. Lagu itu menggambarkan sebuah ironi kemiskinan di tanah kelahirannya.
“Kita Indonesia Timur, terutama Papua, itu sudah sangat-sangat besar memberikan kontribusi bagi Indonesia dalam segala hal. Kalau kita ngomong masalah sumber daya alam, kita menyumbang besar sekali. Kita punya PT Freeport, kita punya hasil hutan yang dirampok habis-habisan selama ini dan memperkaya orang-orang Jakarta. Sampai sekarang kita miskin terus.”
Keprihatinan ini disuarakan Edo Kondologit bersama puluhan musisi lainnya pekan lalu di sebuah pusat belanja mewah di Jakarta. Diantaranya adalah Tompie, Sandy Sondoro, Efek Rumah Kaca dan Endah N Rhesa.
Penyanyi dan pemain gitar, Endah Widiastuti.
“Yang jelas pasti akan banyak sekali memerlukan kesetaraan, baik pembangunan, pendidikan. Kira-kira yang setara lah dengan perkembangan yang terjadi di Jakarta atau Indonesia bagian Barat terutama. Jadi menurut kami mudah-mudahan dengan adanya acara seperti ini bisa memberikan concern, baik masyarakat maupun pemerintah untuk lebih memerhatikan teman-teman di Indonesia Timur.”
“Kebetulan kakak saya bekerja di LSM lingkungan. Jadi saya juga sebenarnya sangat tahu permasalahan yang terjadi di sana. Di Freeport, di Newmont. Banyak lah cerita dari mereka, dari kakak-kakak saya. Ya tetapi sekali lagi karena kami musisi ya gerakannya seperti ini.”
Puluhan musisi itu dikoordinir oleh penyanyi berdarah Ambon, Glenn Fredly.
“Ini kampanyenya kita bikin dalam project music, macem-macem ya. Teman-teman musisi menyumbangkan lagu-lagunya mereka, kaya Slank ngasih lagu. Nanti ada download gratis di Vote. Jadi seluas mungkin teman-teman musisi, film maker. Jadi memang kita ingin kanal Vote ini menjadi kanal suara buat semua orang. Jadi semua orang bisa bersuara di situ untuk menyampaikan terutama yang berkaitan dengan kemanusiaan dan perdamaian.”
Konflik horizontal di Ambon, juga wilayah timur Indonesia lainnya seperti Papua, menjadi batu pijakan Glenn membentuk gerakan kebudayaan ini.
“Saya besar dan lahir di Jakarta. Pada saat saya melihat secara real, khususnya pada saat saya datang ke Maluku tahun 2002 saat konflik sosial terjadi di sana. Itu menjadi turning point saya. Saya datang sebagai masyarakat sipil biasa. Tiga hari saya di sana, bukan konser. Saya dengar berita, sangat mengganggu. Saya dengar propaganda media yang terjadi di kota Ambon. Akhirnya saya, otak gila entah apa, saya beli tiket, saya berangkat dan saya lihat langsung ya menyedihkan sekali.”
Diantara puluhan musisi yang terlibat, Bobby Febian juga meramaikan acara. Ia menyanyikan dua lagu. Salah satunya berjudul, Bagaimana Dengan Mereka.
Penyanyi lagu rohani ini mengaku senang bisa terlibat dalam kampanye kemanusiaan ini, meskipun tak dibayar. Dari pergaulannya, penyanyi peranakan Jawa-Batak ini mengaku cukup mengetahui segudang masalah yang terjadi di timur Indonesia.
“Kita semua tahu, ini sudah rahasia umum bahwa apa yang terjadi di Indonesia Timur adalah ketidakadilan. Apalagi kalau kita bicara tentang Papua. Bayangin orang, ibaratnya orang mati haus di tepi sungai dan orang mati miskin di atas emas. Itulah gambaran tentang Papua.”
Bobby Febian mengajak penonton bersolidaritas.
“Kita semua adalah orang-orang yang beruntung, karena hari ini kita bisa jalan-jalan ke mall. Artinya begini, hidup kita adalah hidup yang indah. Kita diciptakan dan kita dikasih kesempatan untuk hidup yang indah. Hari ini kalau kalian hidup, kita semua hidup mari kita ingat orang-orang yang tidak seberuntung kita. Mari kita mulai berpikir dan berbuat sesuatu buat mereka.”
“Perwakilan bangsa ini itu harusnya buka mata gede-gede. Karena ketika mereka menciptakan ketidakadilan ini. Maka ada banyak hal membuat masyarakat Indonesia Timur akhirnya kehilangan hatinya untuk Indonesia. Jangan salahkan kalau mereka tiba-tiba ingin merdeka karena itu lahir dari hati mereka yang paling dalam.”
Kampanye budaya Suara dari Timur berlangsung hingga tengah malam. Lantai pusat belanja itu terasa bergetar saat seratusan lebih penonton menyanyi sambil menari tarian khas Nusa Tenggara Timur secara bersamaan.
Mahasiswa Institut Manajemen Telkom Bandung, Fadillah Fasya, Virdyana dan empat temannya ikut meramaikan acara itu. Fadillah Fasya mengaku kaget dengan isi kampanye ini.
“Aku tau dari teman aku. Aku tidak tahu dia taunya darimana. Di ajakin ke sini. Ternyata acara ini tentang Papua, orang-orang Timur sana. Kaget saja. Tadinya tertarik foto-foto juga, karena ak suka fotografi. Tadi sempat melihat kesana juga. Bagus-bagus.”
“Melihat Indonesia bagian Timur itu dengan keadaan alam yang besar, bagus, tetapi pemerintah sendiri kurang memerhatikan bagaimana infrastruktur dari Indonesia Timur.”
Voice from the East, Suara dari Timur, bukan sekedar aksi panggung puluhan musisi. Ini adalah kampanye budaya, solidaritas untuk saudara-saudara di timur Indonesia, melawan dengan cara pop.
Melawan Lewat Budaya
“Ini sebuah gerakan budaya sebenarnya, lebih cultural movement untuk mengangkat permasalahan real di Indonesia Timur. Jadi kita memang ingin lebih melihat dari perspektif kemanusiaannya. Apa yang terjadi di Indonesia Timur ini menjadi permasalah ini menurut kami, menurut saya secara pribadi adalah hal yang perlu diangkat untuk disosialisasikan ke masyarakat. Karena selama ini gap informasi itu terlalu lebar. Itu sebabnya kenapa kami bikin kampanye damai ini yang akan berlanjut di konser besarnya pada 14 April di Yogyakarta.”
Awalnya adalah obrolan warung kopi soal pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan dan korupsi sistemik di wilayah Timur Indonesia. Obrolan Glen Fredly bersama aktivis Kontras, berujung pada gerakan budaya Voice From the East.
Glenn yakin, pendekatan budaya ini akan efektif mendorong masyarakat yang cenderung tak memperdulikan isu-isu sosial-politik di timur Indonesia. Glen menunjuk kerumunan penonton yang ia sebut sebagai “Silent Majority” itu.
“Anda bisa lihat sendiri. Kepentingannya lebih menarik banyak silent majority, itu yang kita tuju sebenarnya. Mereka yang tidak tersosialisasi atau tidak terinformasi dengan baik bisa melihat dengan kaca mata yang lebih jernih. Kita melibatkan anak-anak muda yang menurut saya tidak ada cara lain selain pendekatan budaya itu menjadi salah satu solusi.”
Koordinator Eksekutif Kontras, Haris Azhar yang juga berperan dalam pembentukan gerakan ini mengatakan, gerakan sosial budaya ini bakal menyoroti kasus-kasus di timur Indonesia dengan cara berbeda.
“Sebenarnya yang menarik caranya, bukan sasarannya. Caranya lebih ngepop. Lebih main ke wilayah budaya. Persoalannya persoalan politik, tetapi kita masuknya pakai bahasa politik yang gampang, bahasa budaya yang gampang.”
Kasus-kasus di timur Indonesia terbilang banyak, lanjut Haris.
“Kalau di Timur banyak. Kasus kekerasan terhadap wartawan banyak, banyak yang proses hukumnya mandek tidak ada yang jalan. Kasus Bima kemarin. Bima kan bentuk kekerasan dari banyaknya ketimpangan ekonomi dan soal lingkungan. Ada soal kasus-kasus kesehatan, HIV AIDS. Buruknya sistem kesehatan dan pendidikan. Makin ke timur makin banyak. Terus masyarakat pesisir terancam oleh kooptasi laut oleh perusahaan-perusahaan perikanan. Jadi ada banyak problemnya.”
Khusus menyangkut Papua, berarti bicara soal politik. Kontras mencatat, sepanjang 2009-2011, telah terjadi sejumlah aksi kekerasan di Papua yang mengakibatkan belasan orang tewas dan puluhan orang ditahan. Ini karena kebebasan berekspresi warga Papua dianggap sebagai kriminal.
Selain masalah politik, kasus korupsi di Papuapun bagai tak tersentuh. Aktivis Komite Masyarakat Papua Anti Korupsi, Michael Rumaropen.
“Ada persoalaan yang mendasar di Papua. Yang masih dilindungi adalah koruptor di Papua tidak ditangkap. Tetapi warga saya dianggap separatis, selalu diperhadapkan dengan militer. Ini menjadi persoalan mendasar di Papua. Oleh sebab itu saya minta kepada Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden, jangan dia melindungi gubernur hingga bupati-bupati di Papua yang tersandung korupsi. Itu persoalan mendasar di Papua. Saya punya bukti yang cukup yang sudah ada di KPK.”
Dengan kenyataan itu, Glen Fredly menilai pemerintah Jakarta tak cukup hanya bicara soal dialog, dialog dan dialog.
“Pendekatannya tidak cukup dengan dialog dengan tokoh-tokoh. Tetapi saya pikir harus lebih sampai ke masyarakat akar. Itu yang jauh lebih penting. Opini itu kan atau apa yang terjadi itu kan justru terjadi di masyarakat akar yang paling merasakan. Saya sempat kepikiran kata-kata Haris (Azhar) dari Kontras, kenapa tidak Presiden berkantor dua bulan gitu di Papua untuk menyakinkan orang Papua bahwa Negara kita punya kepedulian.”
Voice from the East, Suara dari Timur berupaya mengemas rentetan persoalan sosial-politik secara sederhana. Tujuannya agar masyarakat lebih mudah memahami praktek ketidakadilan yang terjadi di sana. Kembali Koordinator Kontras, Haris Azhar.
“Nanti semua orang diminta untuk mengendorse tekanan soal itu, nanti semua orang ikut. Jadi bukan cuma manggung-manggung doank, tetapi ada isinya nanti. Ada topik-topiknya nanti semua orang bisa terlibat, nulis surat ramai-ramai. Dalam web, nanti ada twitter-nya, ada facebook-nya, di email, banyak nanti caranya.”
Fadillah Fasya, salah seorang pengunjung mengapresiasi gerakan ini.
“Menurut aku efektif. Karena pemerintah perlu yang namanya diliatin. Kalau kaya begini, orang-orang semakin tahu, semakin tahu, semakin tahu. Jadi pemerintah mau tidak mau bekerja. Makanya menurut aku acara seperti ini efektif banget untuk menampar orang-orang yang di atas itu.
Penggagas Voice from the East Glenn Fredly sadar gerakan ini tidak mudah untuk dilakukan. Perlu waktu panjang untuk membuka mata dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penuntasan persoalan di timur Indonesia.
“Saya merasa bahwa untuk sampai mengajak silent majority untuk terlibat ini memang harus perlu dengan kesabaran dan strategi. Dalam arti perlu waktu. Ini bukan pekerjaan yang sehari-dua hari. Ini harus bekelanjutan. Kita akan masuk kampus, diskusi bersama dan mengajak lebih banyak lagi musisi untuk mendukung gerakan ini. Kita punya komitmen bersama. Afiliasi ini adalah gerakan bersama. Vote ini sebagai payung pergerakan. Mudah-mudah ini bisa sampai ke masyarakat. Karena yang kita tuju sebenarnya bukan untuk mesyarakat berpikir, tetapi untuk masyarakat melihat dengan hati.”
Voice from the East, Suara dari Timur, solidaritas untuk Papua, Maluku, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
“Matahari yang membawa harapan telah bersinar, I’m the Vote.” Begitu slogannya.
Audio:




