KBR68H - Para petani di Kampung Ciletuh Desa Sukasirna Cibadak Sukabumi Jawa Barat kini tak bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. Sebagian sawah mereka terpaksa diubah jadi ladang palawija setelah pada 2003 silam lahan mereka dikepung perkebunan sawit. Benarkah kegiatan perkebunan sawit PTPN VIII dan perusahaan swasta yang memaksa warga antri air ketika kemarau tiba? Jurnalis KBR68H Irvan Imamsyah datang ke sana untuk mencari jawabannya.
Air Makin Susah
“Musim hujan ini kan keluar air. Di bawah itu di kampung saya. Kalau sekarang tak pernah keluar air kalau musim hujan. Kan biasanya kalau bulan satu air biasanya banyak. Sekarang sih gak banyak.”
Ade Setiana warga Kampung Ciletuh Desa Sukasirna Cibadak Sukabumi Jawa Barat. Ade mengajak saya mengelilingi lahan persawahan di kampungnya. Luas lahan yang kami susuri lebih dari 50 hektar. Jalan tanah licin, sempit dan berbukit.
“Seperti ini khan sumber air di sini. Seharusnya di bawah. Misalkan di dekat sawah Haji Muhidin saja itu kan sumber air. Biasanya gak kekeringan, waktu ada sumber air. Karena ditanami sawit akhirnya jadi kekeringan.”
Haji Muhidin yang diceritakan Ade Setiana adalah petani yang punya lahan luas di Kampung Ciletuh. Seret air juga berdampak pada sawah milik Haji Hanafi, jelas Ade Setiana.
“Banyak, tuh jadi kebun jenjeng sekarang. Tuh sebelah sana juga tadinya sawah, sumber airnya khan dari sono. Ini saja sawah haji hanafi sekian luasnya cuma ini saja yang bisa ditanami padi.
Saat ini cuma sedikit lahan sawah yang bisa digarap, meski sedang musim hujan.
Ketika menuju lokasi sumber air yang kering, kami bertemu Kosasih yang sibuk mencangkul sawah garapan. Lahannya baru saja basah oleh hujan. Dia mau mencoba peruntungan di awal tahun karena selama kemarau lalu tak bisa menanam padi.
“Kalau sekarang mata-mata air sudah satu bulan turun hujan baru keluar airnya. Saya tak tahu dari mana airnya. Tak tahu tersedot sawit atau tidak? Saya tak tahu.”
Yang jelas bapak lebih susah usaha ya?
“Ya lebih susah lagilah. Ini baru dicangkul tahun ini belum tentu ada hasilnya. Kalau hujan sudah kemarau lagi air kering lagi. Jadi saya susah. Kalau ditempat orang lain khan bisa ditanami sayuran. Kalau saya tak bisa kalau tak disuruh orang lain. Sama yang punya tempat. Ya sudah di garu begini. Ada air baru nyangkul lagi. Sulitlah!”
Menurut Kosasih, kampungnya jadi seret air sejak enam tahun lalu. Persisnya setelah lahan perkebunan karet milik PT Perkebunan Nusantara VIII dibabat untuk kemudian diganti dengan kelapa sawit. Dengan sawah tadah hujan, otomatis Kosasih cuma bisa panen sekali dalam setahun.
“Paling-paling lima kuintal – genep kuintal. Satu kali panen. Iya tapi khan itu dibagi dua. Pake beli berak lagi. Nyangkul lagi. Yaa saya hanya tenaga sajalah daripada diam di rumah.”
Pendapatannya tak lebih dari 1,8 juta rupiah untuk satu tahun, dengan harga gabah rata-rata 3000 rupiah perkilogramnya.
“Sodara sawah yang ada di sini ini baru mau akan digarap, setelah berbulan-bulan baru hanya ditanami palawija. Nah mereka menanam palawija karena sumber air kering. Masyarakat meyakini keringnya sumber air di sini karena kegiatan perkebunan sawit, baik itu pihak swasta atau pun PTPN VIII.”
Di Kecamatan Cibadak dan Cikidang Sukabumi, terdapat sejumlah usaha perkebunan. Tapi yang memusatkan perhatian pada usaha kebun sawit cuma PT Perkebunan Nusantara VIII Sukamaju dan usaha Cikidang Plantation Estate milik pengusaha Budi Handoko.
Menurut Ade Setiana, banyak lahan sawah yang diubah jadi kebun sayuran dan palawija setelah tiga sumber mata air kering 4 tahun lalu.
“Warga yang lain juga sama, yang punya sawah sedikit-sedikit kekeringan juga. Cuma kalau lagi musim hujan gini baru bisa. Kalau dulu khan musim kemarau juga masih diusahakan air. Sekarang sama sekali fatal.”
Gali sumur juga kering, kalau mata air?
“Memang sumber air di sini tadinya. Bahkan di kampung saya saja kalau musim hujan gini air pada keluar. Sekarang gak ada. Kalau musim hujan gini, di depan rumah air pada keluar. Kalau sekarang tak ada walaupun musim hujan. Apalagi kemarau. Jadi sawit itu benar-benar menyerap air.”
Kami pun sampai ke lokasi mata air. Kondisinya kering dan kini tertutup ladang singkong. Semula lahan yang tertanam singkong itu ditanami padi, lanjut Ade Setiana.
“Dari sini tadinya sumber air besar pak. Air di sini untuk lahan pak haji Hanafi cukup dari tahun ke tahun.”
Sumber airnya di mana?
“Itu di situ. Sekarang gak ada. Bahkan sekarang sudah musim hujan (menunjuk ke pohon sawit ) tak keluar. Ini khan tadinya juga sawah perkebunan milik PTP. Cuma tak ditanami sawit. Sumber airnya di situ pas ada pohon aren. Sekarang sudah tak ada airnya. Sama sekali kering. Mungkin, mungkin lantaran sawit ya pak ya?”
Keringnya sumber air tak hanya menyulitkan sektor pertanian. Saat kemarau, warga pun antri mengambil air hingga larut malam. Wawang Darmawan dan Ade Setiana bergantian menjelaskan.
“Setelah besar begini dan air kurang. Dulu kemarau 7 bulan bisa kita gak kekeringan sumur. Sekarang semua dua RT kekeringan. Ini sampai bikin dua kamar mandi di sawah. Dua kamar mandi gak cukup.”
Kamar mandi dibangun sejak kapan?
“Tiga tahunan lalu. Swadaya sama PNPM. Sekarang tak aman. Tiga bulan saja belangsak. Dua bulan antri dari pagi sampai magrib. Tiga bulan antri sampai jam 8 malam. Baru satu bulan ini tak antri. Bulan puasa lebaran Idhul Fitri saja antri. Idul Adha juga masih antri. Sampai saya tak bisa shalat ied karena tak kebagian air.”
Mau tak antri air, warga harus rela keluar uang untuk membeli air.
“Memang orang-orang bilang sama seperti saya ini. Bahkan kalau musim kemarau di sini semuanya beli air. Lingkungan dari Leuwung Datar sampai sini beli semua. Kalau saya biaya beli air sehari saja 15 ribu, kalau perbulan artinya keluar 450 ribu. Itu tiap hari. Khan tiap hari 15 ribu.”
Air hujan pun akhirnya dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan mandi.
Warga tak bisa berbuat banyak atas kondisi ini. Semua keluh kesah mereka diabaikan pemerintah desa.
Menuding ke Sawit
Perkebunan sawit di Kecamatan Cibadak dan Cikidang Sukabumi dibuka PT Perkebunan Nusantara PTPN VIII jelang berakhirnya era Presiden Megawati Soekarno Putri 2004 lalu. Warga Ciletuh Sukabumi Ade Setiana mengatakan, semula kelapa sawit ditanam sebagai tumpang sari pohon karet.
“Jadi banyak masyarakat yang tumpang sari karena karet sudah tidak produktif.”
Apa ada penjelasan dari PTP kenapa harus sawit?
“Tak tahu kalau itu. Cuma tahu ada rame-rame mau diganti tanami sawit. Akhirnya lahan yang digarap sama masyarakat, akhirnya dibayar.”
Sejak itu pula, warga tak lagi boleh menanam palawija di areal perkebunan milik PTPN VIII, jelas Wawang Darmawan, warga Ciletuh lainnya.
“Singkong, padi, cengek, dulu penghasilan bisa rutin. Sekarang parah. Numpang-numpang dikit gak boleh, bisa dikejar-kejar satpam. Yang sudah renggang ditanami tak boleh.”
Proses ganti rugi pembabatan tumpang sari terus berlanjut, tapi sebagian warga Desa Sukasirna tetap protes, jelas Suryadinata bekas Kepala Desa Sukasirna.
“Sosialisasi dulu dong! Rakyat beri pengertian. Ini sosialisasi memang ada, betul. Tapi hanya di tingkat elit. Kata mereka dengan menanam sawit kita akan menjadi daerah Brunei kedua. Tapi warga sini tidak bodoh. Mereka mengatakan di berbagai macam di Sumatera, banyak ular, airnya keruh. Rakyat menolak.”
Protes warga tak digubris PTPN VIII. Warga lantas berunjuk rasa dengan menebang satu-demi-satu pohon sawit yang baru ditanam sebagai tawaran untuk berunding.
Aksi terpaksa mereka lakukan karena Administratur PTPN VIII Heri Herman Yusuf selalu cuek dengan aspirasi masyarakat, lanjut Suryadinata.
“Tapi dengan gerakan seperti ini, rakyat bicara. Petani sudah pangkas pohon sawit. ADM (administratur PTPN –red), tak datang pangkas lagi. ADM belum datang pangkas lagi. Akhirnya ADM datang dengan jaminan keamanan dari saya. Saya lapor Kapolsek, Danramil serta Camat. Pak kami minta izin mau orasi.”
Unjuk rasa akhirnya berbuah kesepakatan. Mulai dari batas penanaman sawit dengan permukiman dan batas kampung serta desa. Juga sejumlah fasilitas umum dan sosial yang sampai sekarang tak jua dipenuhi.
“Ada fasum dan fasos. Tapi dia lelet dan lamban karena harus persetujuan direksi. Tak boleh pak yang bersifat fisik yang permanen. Setelah saya tidak jadi kepala desa diambil lagi. Yang untuk makam diambil lagi untuk kebun. Alasannya warga tak ngurus.”
Perjuangan warga akhirnya terhenti bersamaan Suryadinata yang pensiun sebagai Kepala Desa Sukasirna 2007 lalu.
Setelah itu, berbagai keluhan warga terkait keringnya sumber air karena perkebunan sawit tak bisa sampai ke perusahaan perkebunan. Sampai saat ini, kata Ade Setiana dan Wawang Darmawan.
“Ngumpulin warga keluhan, baru. Kalau gak ngumpulin warga nanti kayak kok pahlawan sendiri tak dianggap sama perkebunan.”
PT Perkebunan Nusantara VIII Sukamaju Sukabumi mengembangkan tanaman sawit sesuai dengan perintah Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi kala itu. Pengalihan pengembangan komoditi karet ke sawit itu ditujukan untuk meningkatkan pendapatan PTPN. Apalagi pada 2003, minyak sawit mentah Crude Palm Oil jadi primadona perdagangan antar negara.
Endang, Kepala Bagian Umum PTPN VIII Sukamaju Sukabumi Jawa Barat menjelaskan, sawit cocok untuk ditanam di wilayah Cibadak dan Cikidang yang kaya dengan sumber daya air.
“Ini sebelum penanaman di teliti dulu. Unsur tanah, ketinggian tanah dari permukaa laut. Alhamdullilah cocok disini. Sedanglah. Hasilnya pun bagus. Paling sedikit 150 ton perhari.”
Endang menepis tudingan warga Ciletuh kalau perkebunan sawit banyak menyedot sumber air di Sukabumi.
“Ah biasa-biasa saja. Masalah air gak ini. Masyarakat tetap menikmati air. Gak ada kekurangan. Gak ada sumber air yang mati. Itu kan hanya gosip. Cuma isu kalau sawit menyerap air begitu banyak.”
Klaim Endang itu disampaikan atas dasar tidak adanya keluhan dari warga.
“Menurut saya semenjak adanya sawit gak ada kejanggalan. Tak ada kekeringan. Kecuali kemarau. Gak ada pak, gak ada keluhan masyarakat. Malahan mereka senang, dengan adanya perkebunan sawit anak-anaknya yang tadinya nganggur, alhamdullilah bisa kerja.”
Apa yang dibilang Endang, juga didukung Budi Handoko, pengusaha properti. Di Cikidang Budi Handoko mengelola 800 hektar lahan perkebunan sawit bersamaan dengan usaha jasa properti rumah peristirahatan serta lapangan golf. Menurutnya klaim sawit boros air hanya politik dagang Amerika Serikat dan Eropa.
“Jadi kalau satu hektar kebun sawit tak lebih banyak dari kebun lain membutuhkan airnya. Tapi pohon sawit dengan sama pohon teh atau karet, memang sawit membutuhkan banyak air. Ya khan jadi perlu ada yang curah hujannya tinggi. Lah di sini saja hujan terus-terusan. Malah yang benar akar sawit memegang air lebih lama dari akar yang lain.”
Karena itu pula, Budi Handoko juga membuka kebun sawit di kawasan Sukabumi lainnya. Seperti di Surade, Ciemas Waluran dan Jampang Kulon. Total keseluruhan luas lahan yang dimiliki mencapai 18 ribu hektar.
Pemerintah daerah berjanji akan memeriksa masalah kekurangan air ini. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi Daden Gunawan.
“Tapi Insya Allah dengan adanya laporan bapak, kami akan turun ke Ciletuh.”
Untuk memastikan dampak perkebunan sawit terhadap sumber air bisa terkendali, BLH Sukabumi berjanji akan meminta laporan rutin kinerja lingkungan dari PTPN VIII.
“Dari dampak lingkungan kami tengah melakukan pengamatan dari air itu. Kami amati apa sejauh mana dengan adanya kelapa sawit di PTPN terhadap air yang ada di sekitarnya. Baik mata air atau danau-danau kecil disekitarnya. Tugas kami kan pengawasan dan pengendalian.”
Tak hanya itu, Daden juga minta agar Kementerian Lingkungan Hidup menyertakan PTPN VIII ke dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan Perusahaan (PROPER).
“Ini surat tugasnya nantilah awal Februari, Cikidang semualah. Nanti kita mendekati musim kemarau.”
Kembali ke Kampung Ciletuh, tempat Ade Setiana, Kosasih, Wawang Darmawan juga Suryadinata tinggal. Apa yang dikatakan Endang dan Budi Handoko tak terbukti. Di Kampung Ciletuh cuma ada petani yang hanya bisa menanam padi sekali setahun, sumber-sumber air yang kering, serta ratusan warga yang rela antri air hingga malam saat kemarau tiba.
“Seperti saya ngewarung di sini memang tak boleh. Di suruh kerja, cuma kalau menurut saya kerjanya tak sesuai. Upah babat saja 8500 rupiah, upah panen 22 ribu. Sedang kebutuhan saya sehari untuk anak sekolah 25 ribu. Itu artinya khan masih minim”, tutur Ade Setiana.
“Jawa ini tak cocok untuk perkebunan, apalagi sawit. Sawit itu Sumatera, maaf Kalimantan dan Sulawesi. Daerah di luar Jawa lah. Katanya penduduk sudah banyak. Katanya pulau Jawa padat”, tutup Suryadinata.
Audio:




