KBR68H

    

Last update06:25:24 AM GMT

Ibu Umi Menghalau Tawuran

  • PDF

Gaya Ibu Umi Kalau Melerai TawuranKBR68H - Kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat dikenal luas karena tradisi tawuran. Dalam sebulan bisa 5 kali pecah tawuran antara kelompok warga di sana. Anak anak, kaum muda, bahkan orang tua menenteng senjata tajam, kayu, melempar botol dan batu, serta saling memprovokasi. Diantara letusan petasan, teriakan penuh amarah, dan botol botol kaca yang beterbangan, ada seorang ibu dengan berani masuk ke dalam kerumunan dan memaksa anak anak itu untuk berhenti. Namanya Umiyati, perempuan paruh baya bertubuh mungil, namun bernyali besar. Reporter KBR68H, Johana Purba bertandang ke Johar Baru dan merekam upaya Umiyati menghentikan tawuran di kampungnya.

Ibu Mungil di Tengah Lemparan Batu dan Botol

Lebih 40 tahun tinggal di kawasan Johar Baru, Umiyati tahu betul bahayanya. Tawuran menjadi pemandangan biasa. Anak-anak muda saling menyerang, sementara orang orang tua mengompori mereka.

“Saya di TKP, namanya mesjid Babusalam, saya begini sendiri. Satu pun bapak-bapak tidak ada yang jadi pagar betis, tidak ada yang mendukung. Saya usirin, maksudnya jangan menambah personil di arena jalan T. Anak-anak sekolah jangan ada yang mampir. Saya tarikin leher bajunya, jangan... kamu balik. Saya bisa lakukan itu sendiri, tidak adalah bapak bapak ikut minimal peduli, malah begini “Biarin bu RT biar pada mampus sekalian”

Masjid Babusalam terletak di Jalan T Johan Baru. Di sekitar jalan itulah lokasi tawuran.

Tawuran yang kerap terjadi itu melibatkan anggota geng atau warga yang ada di ruas jalan berbeda. Namun, oleh warga lingkungannya sendiri, tindakan Umi justru dilecehkan karena dianggapmenjadi pahlawan kesiangan.

Ibu Umi dan Anak-anak Kampung Rawa“Warga aku ini namanya Gempal gengnya, ribut sama jalan T. Aku sama wargaku sendiri, Gempal, tidak disambut baiklah. Aku dihujatlah, dengan kata kata kotor. Dihina-hina, tetapi aku tidak putus asa. Semakin dihujat, aku semakin maju.”

“Saya di warga saya mengawal, lari sana lari sini. Mereka yang mereka bantu, nyediain obat, nyiapin makan. Enggak ada yang back up saya, ayo anak-anak kita tarik. Kalau saya larang saya yang dihajar sama mereka.”

Dengan helm di kepala, Umi tak peduli dicaci-maki dan diabaikan. Ia terjun ke tengah gelanggang tawuran. Helm itu untuk melindungi kepala dari batu-botol yang berterbangan saat tawuran pecah. Hanya itu senjata Ibu Umi.

“Kita memang tawuran banget, kalau sudah tawuran saya tidur tidak nyenyak, tidur rapi begini, persiapan. Kalau tawuran pintu konci, saya ke lokasi. Kalau saya menghalau kalau bapak menghubungi polisi. Kalau saya menghalau warga jangan, tapi kadang mereka lagi gak sadar. Mabok. Pernah satu malam tawuran, sendiri, anak-anak semu, saya dilawan, BU R saya diserang, dibacok, saya lihat ya mabok.”

“Ibu kok enggak ada rasa takut? Enggak tahu saya terpanggil aja. Saya mau menggunakan kepengurusan bapak sebagai RW untuk hal hal positif. Dulu saya dipandang sebelah mata, siapa lo. Terus terang saya tidak bisa melihat kezoliman, kemaksiatan di depan mata saya.”

Suaminya Dewa Firmansyah adalah Ketua RW 2 Kelurahan Kampung Rawa, Johar Baru. Daerah ini termasuk salah satu RW yang paling sering tawuran.

Dewa Firmansyah dan UmiyatiDewa Firmansyah mengatakan, tradisi tawuran sudah berlangsung lama dengan berbagai alasan.

“Berawal dari Kampung Rawa, Galur karena memang ada lahan yang mereka perebutkan. Kalau sekarang beda, antar kelompok. Mereka bikin geng, ada Geng Gempal, Geng Sadiku, masing-masing ingin menunjukkan keegoan. Jadi ketika ada hal kecil yang bersinggungan, misalnya ada anggota geng yang punya pacar di sana digangguin, mulai tersulut, saling lempar. Dan juga ada dugaan provokasi dari bandar narkoba.”

Lebih dari 50 persen anak muda di kampung itu putus sekolah dan menganggur. Merekalah bibit pelaku tawuran, lanjut Dewa Firmansyah.

“Bisa kita bayangkan ini semua dampak dari kesenjangan sosial. Tidak ada pemerataan dalam kesempatan mendapatkan pendidikan. Begitu mereka masuk sekolah ada biaya, meski ada BOS, ada yang membebani orang tua yang penghasilan minim. Di sini yang pekerja itu dari jumlah seluruh warga saya, paling yang potensial 40 persen, bayangkan yang 60 persen itu enggak jelas.”

Awalnya dilecehkan, namun perlahan Ibu Umi mendapat simpati warga. Rusnadi, warga RW 02 ampung awa.

“Demi anak supaya anak tidak kenapa kenapa. Kalau anak bocor dia lari ke siapa? Kalo bukan orang tua. Ini kan urusan orang tua. Kalau dia enggak ikutan tawuran kan dia selamat, bisa makan bakso. Kalau dia tawuran, dia belah, masuk rumah sakit, bunda juga yang disusahin.”

Rusnadi berharap, warga turut membantu mencegah tawuran, tidak hanya Ibu Umi.

“Tergantung orangnya. Jangankan wanita, laki laki kudu bisa. Saya lelaki malu, contoh baik bunda bisa ngelarang anak anak tawuran. enapa yang laki laki gak bisa, malah ayok. Yang perempuan aja berani didepan, masa laki laki enggak.”

Suami istri Dewa dan Umi bahu membahu mengatasi tawuran di lingkungan. Umi mengajak anak-anak muda aktif mengikuti berbagai pelatihan keterampilan yang disediakan pemerintah setempat. Ia sendiri menyiapkan program untuk anak muda Johar Baru.

Seperti apa upaya Ibu Umi mewujudkan komitmennya itu?

Tawuran Tanpa Alasan

Anak-anak Muda Kampung Rawa, Johar BaruTradisi tawuran di Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat seringkali pecah karena alasan sepele. Membela kampung. Tak ingin kampungnya diserang, tutur Bayu Febrian, pemuda RW2 Kampung Rawa.

“Daerah ini kan sering tawuran, Ikut kamu? Ikut, bela kampung istilahnya. Apa yang dibela? Takut hancur aja, ya istilahnya bela kampung. Kamu tahu siapa provokatornya? Enggak tahu, ikut teman-teman aja. Bawa apa? Jarang bawa apa apa, paling keramik sama botol.”

Sudah empat kali Bayu mengaku ikut tawuran. Yang tersisa kemudian adalah rasa malu karena kampungnya berantakan.

Namun itupun belum membuat jera. Pemuda Kampung Rawa lainnya, Hendi Rihansyah mengatakan, warga kampung itu harus kapanpun melihat tawuran pecah.

“Ada yang musuhin kampung ini? Ada, dulu sempat pecah satu RW sama anak gempal. Sering ikut tawuran, namanya juga tinggal di kampung rawa, rawan tawuran gitu. Kalau tawuran paling sambit-sambitan. Cidera kaki, kena botol.”

Ibu Umi dan Fajar Di Perpustakaan Rumah PintarBerulang kali Hendi terluka akibat tawuran. Sel penjara juga sudah pernah ia cicipi karena tawuran itu. Namun ia bebas dengan jaminan.

Akhir tahun lalu pemerintah kota Jakarta mengadakan pelatihan bagi anakanak Kampung Rawa. Satu persatu mengurangi kebiasaan tawuran, menyibukkan diri dengan aktivitas lain.

Hendra Dermawan, Kampung Rawa, mencoba bakatnya di dunia perfilman. Ia diajak oleh agen bintang sinetron, menjadi figuran dengan upah Rp 25.000 sekali tampil.

“Pas bulan puasa kejadian, itu enggak boleh sama mama Yeni yang bawa syuting. Soalnya kita kan sudah masuk ke TV, tiba tiba masuk TV wah kampung rawa ada saya lagi, malu juga agency. Sebelumnya enggak pernah tawuran, diomelin sama nenek. Kan posisinya gini, saya kan enggak punya orang tua. Bapak udah enggak ada, tinggal nyokap doang. Masak kita ikut tawuran, yang gak bener, gak jelas.”

Selain itu Hendra juga bekerja sebagai sampah warga. Jadwalnya tiga kali seminggu.

Hendi dan Kandang Burung Buatannya“Enak sih, tapi kadang kadang kesel. Buangnya sekarung apa lebih, ngasihnya Cuma seribu. Tenaga orang harusnya ngerti lah. Sedangkan kita bawa kesini ke pembuangan bayar juga, 5000 ya 3000. pendapatan sehari? Ini kan Cuma dua gang doing dari RT2 sampai RT4. gak tentu kadang 30 ribu kadang 40 ribu.”

Sementara Hendi Rihansyah tengah menggagas usaha kandang burung. Beberapa contoh sudah dipajang diruang serbaguna RW 02, sisanya disalurkan ke asar urung ramuka.

“Menariknya ya memang sudah bisa bikin keterampilan enak aja buat nongkrong. Kalau BT bikin kandang. Modal ? ertama dari kerja di steam mobil radio dalam. Duit gajian buat bikin kandang. Temen temen diajakin belum ada yang mau. Kalau mau bikin kandang insya allah diajarin.”

Ferian Airlangga alias Angga mengikuti pelatihan elektro selama dua pekan.

“Pelatihan elektro, dua minggu. Masih kurang, belum cukup pelatihannya. Ada manfaat buat kalau ada peralatan keluarga yang rusak, bisa tahu ngebenerinnya.”

Ibu Umiyati yang memotivasi anakanak muda untuk mengikuti berbagai pelatihan keterampilan. Sementara dia sendiri sedang membangun rumah pintar atau perpustakaan dan studio musik sederhana. Buku-buku dan perlengkapan lainnya didapat dari sumbangan. Sementara alat musik disumbang oleh perusahaan listrik negara PLN.

Ibu Umi berharap dengan banyak kegiatan, anakanak lagi tawuran.

“Besar betul membantu, menambah wawasan mereka, khususnya anak anak SD, daripada mereka main di lahan yang tidak layak untuk bermain, lebih baik mereka baca buku di perpustakaan ini.”

Praktek Pelatihan Pangkas RambutUmi juga meminta pelatihan untuk anakanak muda diperbanyak. Sejauh ini pelatihan dari Pemkot Jakarta itu baru satu kali pada akhir tahun lalu.

“Khususnya untuk warga RW 02 tingkat pendidikan sangat rendah karena saya lihat minimal putus ekolah SD dan SMP. Mereka cari kerjaan susah. SLTA aja susah. Saya mengharap ke pemerintah diperhatikan anak anak kami di Johar baru RW 02. bila perlu pelatihan yang kami dapat di walikota ditingkatkan kembali. Biar anak anak kami mendapatkan pelatihan positif dan ditindak lajuti dengan membuka lowongan kerja.”

Anak-anak Johar Baru khususnya di RW 02 ingin berhenti tawuran. Namun, kata Faisal Bagaskara, pemuda Kampung Rawa, mereka terpaksa terus bersiap selama provokasi masih bisa muncul kapan saja.

“Kecewa melihat semuanya. Habisnya gimana semua udah terjadi. Maunya kita hidup damai, gak mau johar baru di luar dibilang, anak johar baru bahaya. Kita juga gak mau konflik tawuran. ya kadang kepepet banget, sudah dilempari api, masa diam aja. Pembalasan biar orang itu enggak nganggap kita remeh. Ya enggak maulah diusilin. Orang sopan kitapun segan.”

Dan Umiyati alias Ibu Umi terus mendorong anak-anak muda berhenti tawuran.

“Kegiatan untuk anak remaja kami yang tadinya ikut tawuran, insya allah ke depan anak-anak kami tidak ikut tawuran karena sudah ada kegiatan positif. Dan kalau ada donator, kami ingin anak anak kami yang putus sekolah bisa ikut paket A-B-C supaya mereka punya ijasah dan ikut kerja.”

Audio:

Tags:     johar baru      kampung rawa      umiyati

blog comments powered by Disqus