KBR68H

    

Last update06:25:24 AM GMT

Sanggar Bumi Tarung, Seni Tiga Jaman

  • PDF

Misbach Thamrin Masih BerkaryaKBR68H - Lima puluh tahun lalu, 30an mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia, kini Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mendirikan Sanggar Bumi Tarung. Sepak terjang kesenian sanggar ini selaku anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat, terkenal radikal. Namun, setelah Orde Baru berkuasa, mereka diburu, dibunuh dan dipenjara. Orde Baru memaksa seniman-seniman ini hidup dengan stigma komunisme, dan mereka terpaksa berkarya hanya demi uang semata. Kini, delapan anggota yang tersisa terus berkarya, mencoba mempertahankan warna kerakyatan dalam karya seni mereka. Dua seniman gaek Bumi Tarung mengisahkan perjalanan seni tiga jaman mereka kepada Reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto.

Seni untuk Rakyat

Di kediamannya, Amrus Natalsya mengisi masa tua. Rumahnya di Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Ia tinggal bersama karibnya, Misbach Thamrin. Meski berumur lebih dari 70 tahun, mereka berdua tetap berkarya, membuat patung dan lukisan.

Amrus dan Misbach adalah pentolan Sanggar Bumi Tarung. Bersama Isa Hasanda, Sembirin, Tarigan, dan Soetopo, mereka mendirikan sanggar itu pada 1961. Anggotanya terus menggelembung hingga berjumlah puluhan. Semua diharuskan menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Penggagas sanggar seni rupa Bumi Tarung Amrus Natalsya mengisahkan berdirinya sanggar ini.

“Waktu itu dunia sedang perang dingin, antara kapitalis dan sosialis. Saya pikir, dalam hidup selalu bertarung antara kebenaran dan kebatilan, antara menang dan kalah. Kita ngobrol-ngobrol bersama teman, ‘Bagaimana kalau membuat sanggar? Menjadi anggota sanggar sudah ada patokannya, 1-5-1, politik sebagai panglima, lima kombinasi dan turun ke bawah.”

Amrus Natalsya Masih BerkaryaPatokan 1-5-1 merupakan prinsip berkesenian seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang diamini para perupa Bumi Tarung. Lekra tegas mengambil jalur berpolitik. Ini adalah prinsip pertama mereka, politik sebagai panglima. Sejalan dengan kebijakan Soekarno yang gencar membakar semangat menuntaskan revolusi Indonesia.

Misbach Thamrin menerawang masa lalu.

“Kami mempelajari ajaran Bung Karno. Kita masih setengah feodal dan kolonial. Untuk menyelesaikan revolusi andil dari gerakan seni rupa dan gerakan kebudayan yang memang dipelopori Lekra waktu itu, perlu digenjot terus dan dipelopori secara ofensif.”

Sementara lima kombinasi Lekra yang disebut Amrus tadi, di antaranya adalah kombinasi dari Tinggi Mutu Ideologi dan Tinggi Mutu Artistik. Keindahan karya seni berjalan seiring dengan pesan ideologis.

Aliran berkesenian mereka adalah realisme revolusioner, kata Amrus Natalsya.

“Satu-satunya lukisan yang gampang dimengerti orang adalah realisme. Kenapa revolusioner? Karena saat itu Indonesia sedang menyelesaikan revolusi. Dijadikan satu jadi realisme revolusioner, bukan realisme sosialis, karena waktu itu Indonesia belum menjadi masyarakat sosialis.”

Prinsip satu yang terakhir dari patokan 1-5-1 bermakna kedekatan pada rakyat. Kembali Misbach Thamrin.

“Pokoknya, ikut kerja dan tidur bersama. Saling mencurahkan pengalamannya. Bagaimana mereka menceritakan dengan titik air mata, kesedihan mereka. Tanah yang mereka sudah kerjakan sedemikian rupa dengan keluarganya siang dan malam, tiba-tiba saja diambil oleh tuan tanah.”

Lukisan Peristiwa DjengkolSalah satu karya Amrus Natalsya yang menunjukan prinsip 1-5-1 tadi adalah lukisan berjudul Peristiwa Djengkol. Lukisan itu menggambarkan para petani yang tewas dan terluka akibat serbuan tentara yang membantu tuan tanah. Para petani itu sedang membela tanah mereka dari upaya perebutan oleh pabrik gula.

“Peristiwa Djengkol itu sedang hangat-hangatnya. Saya gambarkan peristiwa itu. Di situlah saya menerjemahkannya dalam lukisan. Komposisi tanah dan hasil tanaman. Mereka berjuang untuk tanah.”

Sanggar Bumi Tarung mendukung revolusi yang diusung Soekarno. Alhasil, mereka mendapat banyak kemudahan dalam berkarya, lanjut Mibach Thamrin.

“Kami dapat order dari pemerintah untuk membuat poster-poster besar, dekorasi kota, untuk lukisan potret tamu-tamu negara. Terutama poster-poster dalam rangka mengembangkan revolusi yang belum selesai itu. Pernah kami buat poster menggambarkan buruh dan tani dengan kepal tangan yang besar, ukuran 36x6 meter.”

1965 dan Matinya Seni Bumi Tarung

Huru-hara politik 1965 mengubah segala manis yang dikecap seniman Sanggar Bumi Tarung. Rejim Orde Baru dibangun dengan menciptakan kengerian dan kebencian pada segala yang berbau komunisme. Partai Komunis Indonesia dibubarkan. Anggota dan pendukungnya ditangkapi, dipenjara atau dibunuh. Kekuasaan Soekarno dilucuti.

Penangkapan dan pembunuhan itu menyeret para seniman Bumi Tarung, sebagai anggota jaringan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang sehaluan dengan PKI.

Lukisan Petani“Jelas, direpresi, kami sangat jelas, Ada yang ditahan 13 tahun, seperti saya, ada yang 5 tahun ditahan.“

Di bawah kekuasaan Orde Baru, para seniman Sanggar Bumi Tarung diburu, dibunuh atau digiring ke sel penjara. Tak terhitung jumlah karya seni yang dibakar oleh tentara.

Misbach Thamrin dipenjara 13 tahun. Amrus Natalsya sedikit beruntung karena istrinya berkerabat dengan pejabat Angkatan Darat. Ia dipenjara lima tahun. Selama di penjara, para perupa Bumi Tarung dipaksa berkarya.

“Bikin lukisan, bikin patung. Tapi tidak semau hati sendiri sebab dalam pengawasan. Tentang perempuan sedang menjahit, pemandangan. Yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik. Pernah dapat imbalan, bikin patung perempuan sedang menjahit. Imbalannya dapat sabun mandi 20 biji, kalau uang sekarang kan sekitar 20 ribu lah.”

Bebas dari penjara, stigma PKI melekat. Akibatnya mereka sulit diterima masyarakat, dan pemerintah memanfaatkan tenaga mereka dengan harga murah. Misbach Thamrin menceritakan.

"Setelah bebas hidupnya berat. Susah diterima dan mencari pekerjaan. Tetapi, ada juga yang mereka manfaatkan, seperti saya, dianggap tenaga ahli murah. Mereka minta saya membangun monumen-monumen, yah daripada nganggur? Walaupun dieksploitir dan ditetapkan lebih murah. Sampai 50% lebih murah. Ini bikin iri seniman lain. Kami eks-tapol PKI kok dipakai untuk membangun monumen-monumen dan sebagainya."

Salah satu monumen terbesar yang Misbach Thamrin bangun adalah Monumen Martapura di Kalimantan Selatan. Karya itu berupa tugu setinggi 50 meter dengan puncak berbentuk berlian. Kota Martapura dikenal sebagai penghasil berlian.

Sementara perupa Bumi Tarung lainnya terpaksa menjadi seniman jalanan. Mereka menyewa kios di Pasar Seni Ancol Jakarta. Amrus Natalsya sempat menjadi koordinator seniman di pasar seni itu antara 1972-1982. Menurutnya, seniman Bumi Tarung harus memendam dalam-dalam idealismenya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

"Sesudah bebas, satu-satunya pikiran saya membangun rumah tangga, karena penderitaan istri dan anak-anak saya cukup berat. Anak lima dan istri saya harus mencari nafkah. Tidak terpikir macam-macam, yang terpikir bagaimana lukisan bisa terjual dan menghidupi anak istri."

Cap sebagai seniman PKI juga mempersulit para perupa Bumi Tarung memasuki galeri pameran. Misbach Thamrin menceritakan kisah kawannya, Djoko Pekik yang nyaris dijegal oleh para seniman arus utama di penghujung 1980-an, saat turut andil dalam pameran perupa Indonesia untuk publik Amerika.

Kembali Bangkit

Reformasi bergulir. 1998 Soeharto tumbang.

Kebebasan mulai menyapa Indonesia melalui reformasi. Arus itu turut merangsang Sanggar Bumi Tarung untuk bangkit dari tidur panjang. Delapan seniman Bumi Tarung yang tersisa kembali berpameran pada Desember 2008 di Yogyakarta.

Bambang Subarnas, Kurator Pameran Sanggar Bumi TarungKurator pameran itu, Bambang Subarnas menceritakan proses awal mereka berpameran.

"Mereka memasuki lagi pada ideologi awal mereka. Ada masa jeda yang cukup panjang sampai orde baru. Tidak semua konsisten berkarya, Pak Amrus di Ancol, ada yang jadi tukang pijit. Segala macam. Mereka harus hidup. Setelah reformasi, mereka ketemu kembali dan memperjuangkan Bumi Tarung yang dulu, harus dihidupkan lagi. Ada masa persiapan. Sampai pada tahun 2008 dipamerkan."

Pameran pertama di masa reformasi itu bertujuan membuka lagi sejarah Indonesia.

"Sosialisme anak haram dan jadah? Apakah Lekra anak jadah? Bukan! Sanggar Bumi Tarung adalah tonggak pencapaian perkembangan seni rupa Indonesia. Mendapat pengaruh Hindu-Budha, diadopsi oleh kita. Zaman Islam juga begitu. Bangsa ini memiliki tonggak perjalanan mengadopsi kebudayaan-kebudayaan luar, termasuk di dalamnya adalah ideologi sosialis itu."

Masyarakat semakin mengenal Sanggar Bumi Tarung setelah pameran pada 2008 itu. Sekelompok anak muda yang tertarik dengan mereka bahkan mendirikan Sanggar Bumi Tarung Fans Club (SBTFC).

Salah satu anggotanya, mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Jakarta Annas Shafwan Khalid.

"Tahun 2010. SBTFC itu dilahirkan di Russia, bukan Indonesia, oleh saudara Firdaus itu ya. Konsolidasi untuk siapa saja peminat Bumi Tarung dan memiliki gagasan serupa untuk mengembangkan 1-5-1 atau keberpihakan kepada rakyat kecil melalui seni rupa."

Klub penggemar ini juga memfasilitasi pameran perupa Bumi Tarung pada hari jadi ke-50, September tahun lalu di Galeri Nasional Jakarta. Mereka mengurus perizinan tempat, pengangkutan karya seni, dan promosi.

Dosen Seni Rupa Universitas Pasundan Bambang Subarnas kembali menjadi kurator.

"Karya yang saya pamerkan yang kontemporer revolusioner versi mereka. Konsep 1-5-1 yang dulu mereka gunakan ditambah 'satu' ditambah di masa kontemporer. Ini Pak Amrus bilang sebagai kontrev, kontemporer revolusioner. Ini adalah karya-karya yang mencoba menanggapi sitausi global dengan tema globalisasi."

Realisme kontemporer revolusioner... sekaligus menunjukan adaptasi Sanggar Bumi Tarung terhadap zaman, kata seniman Bumi Tarung Amrus Natalsya.

"Kalau kontemporer sangat individual. Ucapan tergantung kemauan sendiri. Kontemporer revolusioner, di samping kemampuan individu melukis, tapi juga mengaitkan cita-cita revolusi."

Salah satu lukisan realisme kontemporer revolusioner berjudul “Dunia Tanpa Soekarno, Mao dan Naser”. Lukisan ini menggambarkan, tanpa tokoh-tokoh seperti mereka, negara adidaya kerap campur tangan kedaulatan negara lain. Kembali Bambang Subarnas.

"Mencoba melihat kembali tokoh-tokoh sejarah kita. Pada karya Pak Misbach Thamrin, ada Bung Karno dengan tokoh-tokoh dunia misalnya, Che Guevera, Fidel Castro berhadap-hadapan dengan gambar tank dan pabrik."

Delapan seniman gaek Bumi Tarung masih ada dan berkarya. Namun sang pendiri, Amrus Natalsya menegaskan, sanggar ini tidak akan lagi merekrut anggota baru. Secara organisasi, delapan perupa itulah wujud sisa sanggar ini. Itupun, mereka tidak lagi sering berkumpul.

"Organisasi tidak semudah bikin perkumpulan badminton. Habitatnya tidak ada. Kami dulu ada partai komunis, organisasi buruh seluruh Indonesia yang kuat SOBSI (Sentra Organisasi Buruh Indonesia-red), barisan tani yang kuat BTI (Barisan Tani Indonesia-red). Sekarang tidak ada. Kita sudah tua, mau menyelesaikan urusan diri sendiri. Kalau mau melanjutkan organisasi butuh kader, anak-anak. Kita tidak memiliki waktu, jadi sia-sia."

Secara organisasi, Bumi Tarung tak lagi berlanjut. Namun semangat berkesenian terus dijaga. Kelompok penggemar mereka membantu hal itu, kata Annas Shafwan Khalid.

"Ada langkah ke depan, semacam kaderisasi, walaupun beberapa pihak dari Bumi Tarung dan peminatnya ada yang tidak setuju ini disebut kaderisasi. Saat di kampung nelayan Muara Angke, akan ditindaklanjuti karena dari pelaksanaan pelatihan selama tiga hari, ada tiga orang yang potensial dalam bidang seni rupa. Rencananya akan langsung dibimbing oleh Misbach Thamrin atau Pak Amrus."

Meski usia tak lagi muda, perupa Sanggar Bumi Tarung ingin terus berkarya. Sebuah pameran besar sedang disiapkan, tutup Amrus Natalsya.

"Sedang menyiapkan pameran di sini, pameran kontemporer revolusioner tahun depan. Tema politik pada saat Soekarno turun dan Soeharto juga jatuh. Saya buat pertanyaan, ke mana bangsa besar itu? Sebaiknya belajar langsung pada pameran-pameran, tidak belajar pada kita Bumi Tarung. Jadi kita tidak ingin meninggalkan orang, bukan meninggalkan anak didik, tapi karya. Karya ini kan nafas kedua, saya sebagai orang bisa mati, tapi lukisan saya, kalau dipelihara terus akan selalu hidup."

Audio:

Tags:     sanggar bumi tarung      lekra      komunisme

blog comments powered by Disqus