KBR68H - Indonesia menjajah Timor Leste selama 24 tahun. Selama itu, sekitar 4 ribuan anak-anak Lorosae dibawa keluar dari negeri itu oleh orang-orang Indonesia, dengan atau tanpa izin dari orangtua. Setelah Timor Leste merdeka, sejumlah keluarga yang terpisah itu bisa kembali bersatu; tapi masih ada yang terus mencari. Reporter KBR68H Citra Prastuti bertemu keluarga yang masih terus mencari anaknya yang hilang.
Mengapa Anak Kami Belum Pulang?
Saya seharusnya bertemu Miguel Amaral di Dili. Tapi karena dia sakit, dibantu sepupunya, Rafael Urbano, saya menghubungi Miguel lewat telfon.
Saya bertanya soal hari saat anaknya yang saat itu berusia 6 tahun, Cipriano, dibawa pergi. Lewat telpon, Miguel bercerita.
“Saat itu tahun 1977. Orang Indonesia datang dengan helikopter tentara. Saya dan istri sedang tidak ada di rumah ketika anak kami diambil. Tidak ada pemberitahuan kepada kami. Kami hanya melihat helikopter terbang jauh dengan anak kami di dalamnya. Kami tak dapat pemberitahuan apa pun.”
Sebelumnya seorang anggota DPR yang mewakili Timor Timur datang ke desa mereka, menjanjikan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin. Tapi anggota DPR itu tak pernah mengatakan, kapan akan membawa anaknya.
Rafael Urbano adalah paman Cipriano. Dia yang saat itu juga baru berusia 6 tahun ikut dibawa bersama Cipriano. Sebagai anak kecil, mereka sangat senang bisa terbang di helikopter untuk pertama kalinya.
“Rasanya kayak naik truk... bingung, kok bisa naik ke atas? Kita orang susah kok bisa naik ke atas? Mungkin ini karena Tuhan, cinta kasihnya kepada kami. Ekonomi kami kan susah, tapi kami diberikan kesempatan. Orang lain belum tentu dapat kesempatan itu, tapi kami dapat, begitu juga Cipriano.”
Cipriano, Urbano dan sejumlah anak lainnya dari Desa Beobe, Viqueque, ditempatkan ditempatkan di panti asuhan Seroja di Dili, yang dikelola oleh tentara Indonesia.
Satu tahun kemudian, Cipriano dibawa pergi lagi, lanjut Rafael Urbano.
“Setelah tahun 1978, ada kunjungan dari istri tentara. Saudara saya itu kan rada putih, lucu, lalu dipilihlah Cipriano dan satu anak perempuan. Bulannya saya tidak tahu. Cipriano dibawa, sampai sekarang belum pulang.”
Setelah itu, Urbano dan 20-an anak Timor lainnya dibawa untuk tinggal di panti asuhan di Indonesia dan mendapatkan pendidikan gratis sampai SMA di Bandung.
Urbano diberi kesempatan untuk pulang ke Timor Leste, tapi ia memilih untuk bertahan demi menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi.
Dibesarkan di tanah Sunda sempat membuat Urbano merasa kehilangan identitas.
“Kita lebih lari ke orang Sunda-nya.. Karena pergaulan juga dari kecil sudah adaptasi. Kalau tanaman, akarnya udah di sana, kuatnya di sana. Lebih kuat karakter Sunda. Jadi lebih... teman-teman saya orang Sunda bilang, hideung (hitam-red). Saya bilang, warna kulit orang jauh tapi hatinya orang Sunda.”
Setelah lulus pada 2008, dia kembali ke Timor Leste yang saat itu sudah menjadi negara merdeka. Dia kembali ke desanya dan bertemu orangtua Cipriano, yang terus bertanya: kenapa kamu pulang dan anak kami belum pulang?
Miguel Amaral, ayah Cipriano, melanjutkan, “Selama ini bingung mencari ke tempat siapa, tidak tahu soal CAVR. Dengan adanya Urbano ke sini, mereka ingin sekali bagaimana kita bersatu bersama-sama mencari anaknya.”
Diperkirakan ada ratusan keluarga seperti Miguel yang masih mencari anak-anak mereka.
Setelah merdeka dari Indonesia pada 1999, Timor Leste membentuk komisi pencari fakta CAVR untuk menyelidiki apa yang terjadi kepada orang-orang Timor selama penjajahan Indonesia.
Sebagian kecil isi laporan CAVR yang diterbitkan tujuh tahun lalu menyebutkan kalau ada anak-anak yang dibawa keluar dari negeri itu. Tapi Ketua CAVR sekarang Agustinho de Vasconcelos mengatakan, tak banyak yang bisa dilakukan komisi untuk mencoba mencari anak-anak itu sekarang.
“Bagi kami informasi terbuka, kalau ada kasus seperti ini.. paling kurang kami bisa menampung dan menampung. Kemudian kami bisa menunggu proses selanjutnya seperti apa. Karena boleh dikatakan kasusnya terlalu banyak.”
Lantas bagaimana anak-anak Timor ini bisa menemukan jalan mereka pulang?
Mereka Yang Bisa Kembali
Diperkirakan ada empat ribuan anak-anak Timor Leste yang dibawa keluar dari negara itu selama masa penjajahan Indonesia yang berlangsung selama 24 tahun.
Vitor da Costa, salah satu dari mereka, diadopsi oleh keluarga Indonesia setelah orangtua kandungnya meninggal. Dia dibesarkan di Jakarta.
"Dia bilang waktu dia bilang di Bagia, ada anak kecil datang. Dia lagi sakit, saya yang pijiti. Perutnya besar... saya waktu itu saya sakit busung lapar. Di sini sempat dirawat di RS Cijantung. Pertama kali ketemu, di kota Bagia, saya minta makan. Sejak itu dia suruh asistennya untuk ketemu keluarga untuk beritahu kalau saya mau dibawa.”
Keluarganya setuju, karena mereka terlalu miskin untuk mengurus Vitor. Ayah angkat Vitor selalu menjelaskan kalau Vitor adalah anak Timor.
“Karena waktu itu masih anak-anak, ketawa saja, saya senang saja. ‘Anak Timor’ saya suka dipanggil begitu sama kakak bapak angkat saya. Keluarga sayang sama saya.”
Semasa kuliah, Vitor terjun ke dunia aktivis hak asasi manusia. Tahun 1997, sebagai aktivis Partai Rakyat Demokratik, PRD, dia dipenjara dengan tuduhan subversi. Pemerintah Orde Baru menuding PRD sebagai partai berhaluan komunis, juga dalang peristiwa 27 Juli.
Berada di penjara, membuat Vitor semakin ingin pulang.
“Apalagi saya ketemu Pak Xanana di penjara, ketemu teman-teman lain, aktivis lain, saya merasa jadi bagian dari mereka. Itu yang memotivasi untuk kembali. Tapi itu baru dalam hati, karena nggak tau gimana caranya, nggak punya uang. Keinginan-keinginan itu terus mundur. Akhirnya tercapai tahun 2004. Saya merasa sudah dewasa, saya harus cari tahu keluarga saya.”
Pada usia 34 tahun, Vitor memutuskan untuk pulang. Dia mengambil cuti sebulan dari pekerjaan dan pergi ke Timor Leste.
“Begitu sampai, saya senang bisa injak kaki pertama kali, sekian puluh tahun. Bingung, karena nggak tau harus ke mana, ketemu siapa. Kalau mau mencari keluarga, tanya siapa. Satu-satunya yang saya andalkan adalah teman-teman di Yayasan Hak, yang saya kenal waktu jaman aktivis, saya beberapa kali ketemu. Itu andalan saya.”
Dari bertanya kiri-kanan, dari satu teman ke teman lain, Vitor akhirnya bertemu keluarganya. Tapi dia tetap merasa ada yang hilang.
“Saya merasa kultur budaya saya hilang... Indonesia banget sudah. Bahasa Tetum nggak bisa. Kalau di tengah keluarga kebanyakan dengerin saja, nggak banyak omong. Gak bisa bahasa Tetum, gak bisa bahasa suku, namanya bahasa Magsay. Selama puluhan tahun, tidak bisa bahasa, akhirnya tidak bisa bercerita banyak, bercanda dengan saudara-saudara, itu susah.”
Ketika tiba di Timor Leste, Vitor tetap tak bisa menginjakkan kaki ke kampungnya.
“Dibilang sama kakak saya, kamu harus balik lagi untuk acara adat, karena kamu sudah dianggap hilang, mati. Kamu sudah punya kuburan kecil di dalam rumah adat, sama bapak dan ibu kamu, kamu di tengah-tengahnya. Itu harus dicabut, kalau enggak, bahaya."
Gimana rasanya ada kuburan kamu?
"Rasa sedih dan marah. Marahnya kenapa saya dibikin kuburan, saya ini masih hidup. Kenapa kalian nggak mencari? Saya bertanya pada diri saya. Itu membuat diri saya agak marah sama keluarga karena mereka nggak cari. Alasan mereka susah, kondisi sulit, nggak tahu gimana cara mencarinya. Sempat muncul omongan seperti itu. Jadi dimaklumi saja kondisi yang memisahkan itu.”
Selama enam tahun, Vitor menabung demi kebutuhan upacara tradisional... upacara untuk ‘menghidupkan’ dirinya kembali.
Vitor pun kembali lagi ke Timor Leste dua tahun lalu.
“Dalam seumur hidup saya, itu yang paling bahagia saya dapatkan sampai saat ini. Mungkin anak-anak seperti saya itu sama. Kebahagiaan itu yang... bersyukur saya. Walaupun tidak ketemu orangtua kandung, tapi saya bersyukur bisa kembali dan bertemu saudara-saudara. Mengenal tempat lahir. Itu yang membuat saya bahagia sampai saat ini.”
Vitor memperlihatkan foto-foto dia dan keluarganya di Timor Leste. Dia sangat bangga karena dia bisa memanggil mereka ‘keluarga’, meski masih kesulitan mengingat nama-nama mereka.
Dia sekarang tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di Jakarta, bersama tante dan keponakannya dari Timor yang sedang belajar di Jakarta.
“Senang... merasa punya keluarga... Sekarang saya merasa senang. Kamu tinggal di mana? Oh saya tinggal sama keluarga di Rawasari. Jadi bisa menyebutkan keluarga. Kalau dulu nggak. Kamu tinggal di mana? Saya kos. Ada perbedaan di situ.”
Vitor da Costa kini adalah Ketua Ikatan Orang Hilang IKOHI Jakarta.
Dia bertekad membantu menyatukan keluarga-keluarga Timor yang terpisahkan.
“Penting bagi kami untuk tahu keluarga dan menelusuri keluarga kami. Walaupun soal pilihan akan tinggal di Indonesia atau kembali ke Timor Leste, itu kembali ke orangnya. Tapi negara wajib memfasilitasi, dari kedua belah pihak, baik Timor Leste maupun Indonesia untuk anak-anak seperti kami.”
Di Jakarta, Vitor membentuk kelompok kecil untuk mulai bergerilya mencari anak-anak Timor yang terpisah dari keluarganya.
Vitor dibantu Alexhia Cordova da Silva Ximenes, yang tahun 2010 lalu berhasil bertemu keluarga kandungnya di Lospalos, Timor Leste.
“Yang paling penting adalah meyakini kalau keluarga masih sayangi mereka. Nggak usah takut keluarga sudah meninggal karena orang Timor itu keluarganya banyak. Mungkin masih ada adik, sepupu, apa lah, pasti masih ada. Yakin. Itu aja.
Pulanglah Cipriano!
Kembali ke Timor Leste. Urbano dan teman-temannya berbincang tentang cara-cara yang akan mereka tempuh untuk menemukan keponakannya, Cipriano.
Urbano mengatakan, keluarga yakin kalau Cipriano yang hilang masih hidup... di mana pun dia berada.
“Pesan saya untuk Cipriano... Kita berdua pernah di PA Seroja, bersama saudara dan teman-teman kita banyak di Dili. Saya termasuk Om kamu. Bapak kamu masih hidup, ibu kamu masih hidup. Kamu punya saudara banyak sekali. Yang pasti kami menunggu kamu. Kami bingung. Kamu ada di mana saja, yang penting kamu ada alamat pasti, kami akan cari. Bapak ibu kamu, kalau diucapkan nama Cipriano, air mata mengalir. Kamu harus bersyukur Cipriano, kamu masih punya Ibu dan Bapak.”
Ayah Cipriano, Miguel Amaral berharap, “Kami sangat senang sekali kalau siaran ini bisa disiarkan di Jakarta, sehiingga Cipriano bisa tahu kalau bapak ibunya masih hidup di Timor Leste dan merindukan dia. Kalau ada waktu, pulanglah ke Timor Leste.”
Audio:

