KBR68H - Setelah berusia 18 tahun, Alexhia Cordova da Silva baru tahu kalau dia sebetulnya orang Timor Leste, bukan orang Indonesia. Alexhia adalah satu dari hampir empat ribuan anak-anak Timor Leste yang dibawa keluarga Indonesia selama masa pendudukan di negeri Lorosae itu. Mereka dibawa tentara, yayasan dari Indonesia atau keluarga sipil. Di kebanyakan kasus, keluarga angkat berjanji kepada orangtua kandung kalau mereka akan memberikan pendidikan kepada anak-anak Timor Leste yang mereka bawa. Janji lainnya, mereka akan dipulangkan kembali ke keluarga kandung. Tapi itu tak selalu terjadi. Reporter KBR68H Citra Dyah Prastuti mengurai kembali kisah Alexhia yang dimulai pada 1992 di Lospalos, di ujung timur Timor Leste.
Air Mata di Pagi Hari
Pada suatu pagi di tahun 1992, Sabina Ximenes kedatangan tamu: suami istri asal Indonesia. Mereka datang ditemani tentara.
Mereka ingin mengambil anak terakhirnya yang saat itu baru lahir, kenang Sabina.
“Mereka hanya datang dan berkata mereka mau ambil anak perempuan saya. Saya tak mau serahkan anak saya. Jadi mereka pergi meninggalkan rumah, tapi kemudian mereka datang lagi ketika anak saya berusia 40 hari. Orang-orang Indonesia itu mengatakan kalau mereka akan memelihara anak saya. Mereka kasih dia susu. Dan kami dibawa ke kantor komando militer, kami menginap di sana. Suami saya meminta saya berhenti menangis, karena kami ada di tempat militer. Kalau mereka marah, mereka bisa bunuh kami, apa yang bisa kami lakukan?”
Kristina Sity, anak kesembilan Sabina menceritakan peristiwa pagi itu.
“Yang saya tahu, pagi-pagi saya angkat air, ada mobil berhenti, Mama dan Papa ada di dalamnya. Saya tanya, adiknya mau dibawa ke mana kok orang Indonesia yang gendong? Mama bilang, orang Indonesia mau angkat jadi anaknya.”
Sabina adalah pendukung kelompok pembebasan Timor Timur dari Indonesia, yaitu Fretilin. Dua kakak laki-laki Sabina adalah pemimpin senior dari tentara Falintil, yang berperang melawan tentara Indonesia.
“Ya saya marah sama mereka, itu biasa. Gara-gara mereka, saya menderita seperti ini. Saya berkorban banyak hal untuk mereka. Tapi ini situasi politik saat itu. Saya harus melindungi kakak saya”, ujar Sabina.
Mau Nana adalah salah satu kakak Sabina Ximenes, yang bergerilya bersama tentara Falintil.
“Alexhia waktu lahir 1992. Waktu itu saya tidak tahu kalau Alexhia lahir. Waktu saya mulai gerilya di hutan, adik saya Sabina belum menikah, jadi saya tidak tahu kalau Alexhia sudah lahir.”
Sabine melanjutkan, “Dalam hati kecil, saya tidak ikhlas anak dipelihara sama mereka. Orang Indonesia itu bilang, ‘Sekalipun kami yang pelihara, dia tetap anak kamu’. Tapi saya tetap tidak mau. Tapi karena mereka bilang, mereka sudah bilang sama Babinsa.. kami tak bisa apa-apa. Di zaman Indonesia dulu, kalau dengar kata ‘Babinsa’ atau melihat orang yang berpakaian militer, nggak ada yang bisa dilawan.”
Babinsa adalah bintara pembina desa, tentara Indonesia yang ditempatkan sampai ke desa-desa.
Sabina pun dipaksa menandatangani sebuah surat. Dia tak bisa membaca, ia tak tahu apa yang dia tandatangani.
Isi surat itu seperti ini : "...dengan ikhlas dan rela tanpa adanya unsur paksaan dari pihak mana pun, dan untuk selanjutnya sejak tanggal surat pernyataan ini dibuat, Beatriz da Silva Soares menjadi anak angkat syah pihak kedua...”
Alexhia, si bungsu yang lahir dengan nama Beatriz, lantas dibawa pergi.
Yang tersisa pada Sabina hanya surat yang sudah ia tandatangani, juga selembar foto kusam: Sabina menggendong Alexhia yang baru lahir.
“Orang-orang kalau kasih netek anak saya ingat lagi anak saya. Anak saya masih hidup tapi seperti sudah mati... Susunya sakit, saya kasih siapa... Saya nangis terus. Bapaknya bilang, jangan nangis terus, anak kita baik-baik saja di sana. Dia juga nangis. Kamu nangis nanti anaknya sakit juga. Tapi saya tidak bisa tahan, saya nangis terus", lanjut Sabina sambil menangis.
Tahun demi tahun berlalu. Sabina terus bersedih karena kehilangan anaknya, kata Kristina Siti, kakak Alexhia.
“Saya punya adik laki-laki satu, kalau dia tanya gimana saya punya saudara perempuan yang diangkat sama orang Indonesia? Mama sampai sedih. Pernah Mama sampai pingsan karena ingat Alexhia. Dia bilang kalau kalian ingin supaya saya tetap hidup tolong jangan sebut namanya, kalau tidak saya ingat lagi, kalau tidak saya akan ingat terus.”
Alexhia dan keluarga angkatnya tinggal di Dili, sekitar 100 kilometer atau 6 jam perjalanan darat dari Lospalos, rumah orangtua kandungnya.
Siti, sang kakak ikut menemani. Orangtua kandung masih bisa menjenguk sesekali.
“Kalau dengan Alexhia sangat baik. Tapi kalau dengan saya... saya tidak boleh panggil Alexhia adik. Mereka anggap saya ikut saja, Alexhia bukan saya siapa-siapa. Kalau orangtua angkat Alexhia tau saya panggil dia adik, oh dia bisa marah. ‘Oh Alexhia bukan kamu punya adik’. Kalau orangtua saya datang, mereka bilang ‘panggil Om sama Tante’. Mama sama Bapak tidak boleh panggil Alexhia anak.”
Setelah dua tahun di Dili, Alexhia lantas dibawa ke Jawa Timur oleh keluarga angkatnya. Tanpa kabar kepada keluarga. Sabina hanya bisa menahan diri.
"Saya bilang baik. Saya tau. Ada apa-apa harus tau, kita ini mamanya. Anak kandung kita sendiri. Saya diam saja, saya nggak omong banyak. Saya diam saja."
Suara Hati Alexhia
Alexhia tumbuh besar di Ponorogo, Jawa Timur, bersama keluarga angkatnya.
Saat ayah angkatnya menanti ajal di rumah sakit, baru Alexhia diberitahu identitas diri yang sebenarnya.
"'Mama kamu orang Lospalos.’ Lospalos? Halo? Di Google nggak ada Lospalos. Menyedihkan. Itu sebenarnya tempatnya di mana, di Mars? Atau di Karibia? Atau di mana? Saya nggak tau. I have no idea", tutur Alexhia mengawali kisahnya.
Apa yang kamu lakukan?
“Internet! Internet di mana-mana bo…"
Apa yang di-google?
"Yang di-google saat itu.. karena saya juga basic hukum, saya cari orang hilang di Timor Leste. Mungkin untuk saya, saya sampaikan dengan nada biasa saja karena sekarang... kalau dulu... deuh, pengen saya tonjokin jadi samsak itu Pemerintah Timor Leste!”
Alexhia merasa dibuang.
“Karena apa? Kita anak-anak. Kita generasi. Walaupun tanpa kita masih banyak anak Timor Leste.. tapi seberapa sih? Kalau bisa dibilang “lost generation”... Timor masih punya banyak generasi kok memang selain kita. Tapi, apakah kita nggak pantas untuk dipertahankan?”
“Merasa nggak dicari keluarga itu sakitnya luar biasa. Ibaratnya anak dalam 24 jam nggak pulang itu ibunya stres, nelfon-nelfon, SMS-SMS, ini nggak.. 18 tahun! Dan itu bukan main. Dan 18 tahun itu adalah saya hidup dalam pertanyaan. Hidup dalam kesengsaraan. Saya pernah bermimpi, sampai kebawa mimpi... ibu saya pasti cantik.. sangat cantik... Yang penting buat saya adalah saya bertemu ibu saya. Tolong Tuhan, sebelum saya ketemu ibu saya, jangan angkat dulu nyawa ibu saya atau saya dulu, saya ingin bertemu ibu saya. Itu doa saya. Karena darah ini memberontak, seperti berteriak-teriak: siapa saya?”
“Yang selalu ada di dalam doa saya... di sekolah Minggu anak-anak selalu menyanyi “Di doa ibuku namaku disebut...” dengan nada yang masih imut. Apakah saya disebut dalam doa ibu saya? Apa ibu saya masih ingat saya? Dan apakah keluarga saya masih mengharapkan saya?”
“First time aku mencari orangtua aku, aku berpikir.. oh my God, that was abstract, aku nggak pernah ketemu orangtua, aku nggak pernah berharap ketemu dengan mereka juga. Aku nggak yakin mereka masih ada. Dan di sana terjadi perang dan… actually kebanyakan orang berpikir bahwa.. ‘Alexhia, orangtua kamu itu miskin, pasti udah mati di sana katanya gitu’.
Siapa yang bilang gitu?
"Ibu tiri saya… nggak bisa dibilang ibu tiri.. ibu angkat saya. Tapi saya percaya di sini ada sebuah politik, ibu saya mengatakan itu supaya saya nggak kembali ke orangtua kandung.”
Selama tinggal di Ponorogo, Jawa Timur, Alexhia hidup nyaman di tengah keluarga yang cukup berada. Dia disekolahkan sampai ke tingkat universitas.
“Mungkin ada sisi baiknya juga kalau di Timor mau jadi apa", kata Alexhia tertawa.
"Kalau di Indonesia pasti jadi, apalagi dengan keluarga yang berkecukupan", lanjutnya.
Tapi Alexhia tetap ingin pulang...
“Kalaupun ibu saya masih hidup, masa saya nggak ketemu ibu saya. Ketemu sekali, memeluk, menyatukan kulit saya dengan kulit beliau. Wow. Buat seorang anak yang terbuang, buat anak yang merasa jauh dari orangtuanya, itu sangat berarti. Itu sangat berarti buat saya.”
“Saya berpikir, apa pun ibu saya, bahkan pelacur sekalipun, saya akan tetap datang! Gimana pun caranya, harus ditembak sekalipun. Yang saya tahu, saya harus pulang.”
Pencarian Berlanjut
Di Lospalos, Timor Leste, Sabina Ximenes tak putus berdoa untuk anaknya yang hilang.
“Alexhia adalah darah daging saya. Kalau dia meninggal pasti saya akan merasakan sesuatu yang berbeda. Karena tidak ada tanda-tanda anak saya mati, saya yakin dia hidup. Karena Tuhan tahu, saat saya berikan anak itu saya tidak bermaksud untuk menjual dia kepada orang lain. Jika saat itu saya bermaksud menjual anak itu, Tuhan pasti akan kasih hukuman, kami mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi karena saya tidak jual, saya yakin anak saya masih hidup dan akan kembali kepada saya.”
Pencarian dan penantian terus berlanjut... selama 18 tahun..
Alexhia sempat menyimpan rasa benci, meski akhirnya ia buang itu jauh-jauh.
"Buat saya tidak dicari itu dibuang lho. Coba barang itu di sampah... itu dicari. Tapi ini nggak. Udah bukan sampah lagi saya. Ibaratnya lembiru – lempar beli yang baru. Kalau saya bisa membenci seumur hidup saya, saya sudah benci mereka. 18 tahun saya tidak dicari. 18 tahun saya tidak kenal diri saya sendiri. Who am I... Tapi, now I know."
Setelah ayah angkatnya meninggal, Alexhia memutuskan untuk pergi.
Dari mana tau kalau nama ibu adalah Sabina?
"Ibu angkat saya sendiri. Ayah angkat sendiri. Jadi saya bertanya pada ibu saya, dia lagi main Facebook. Saya duduk di sampingnya. Saya sudah tau kalau saya anak angkat. Aku bicara sama Mama. Ma aku mau ngomong tapi Mama jangan tersinggung. Mama langsung diam dan melihat saya, kenapa? Mama tau nggak nama ibu-bapak kandung aku. Aku cari ke Facebook. Saya kira sudah wah lah, mungkin beliau punya Facebook. Ternyata jalan yang dikasih Tuhan nggak semulus yang saya bilang, tapi seindah yang tak pernah saya bayangkan."
“Saya ketemu di Facebook…"
Ketemu dengan siapa?
"Osorio Soares, orang PAN itu. Saya kasih tahu. Lah kok ternyata dia itu anak dari salah satu gubernur atau bupati dulu. Dia bantu saya sampai ketemu Bapak Edmundo, yaitu Bupati Lospalos pada masa itu.”
Alexhia terus dipompa semangatnya oleh Ruben, sang pacar.
“Aku pun ada harapan lagi karena Om Edmundo ngomong ‘Kamu mirip mamak kau’ Apalagi orangtua yang ngomong gitu, wah ada harapan. Seenggaknya dia kenal bentuk-bentuk wajah Alexhia", kata Ruben.
Bupati Lospalos saat itu, Edmundo, lantas menelfon Mau Nana, paman Alexhia.
Saat itu Mau Nana bahkan belum tahu kalau dia punya keponakan bernama Alexhia.
“Bupati Edmundo telfon saya, tanya, apa betul saya punya keponakan bernama Alexhia? Saya tidak tahu. Apa betul ada anak dari Sabina Ximenes dan Jose Soares yang dibawa ke Indonesia?”
Mau Nana langsung menghubungi Kristina Sity, kakak Alexhia.
“Sampai Om telfon saya, kamu ada adik yang namanya Alexhia tidak? Saya bilang, tidak. Saya punya adik namanya Ira. Trus Om bilang, tidak, dia punya orangtua itu namanya Sabina Ximenes dan Jose Soares.”
Sang Anak Kembali ke Rumah
Alexhia pun mendapatkan kepastian.
“Nggak ada panggilan-panggilan, tiba-tiba ditelfon: Alexhia kamu harus datang sekarang juga karena ada Bapak Xanana Gusmao ke sini pingin bertemu kamu… Saya tau Xanana Gusmao!" teriak Alexhia dengan semangat.
Xanana Gusmao adalah Perdana Menteri Timor Leste. Dia lah yang membawa Alexhia kembali ke Timor Leste pada November 2010 lalu.
Ibu dan anak ini pun bertemu di Dili.
“Pertama kali saya bertemu dia, yang saya rasakan adalah kebahagiaan. Tapi Alexhia sempat marah pada saya, benci dan sebagainya. Saya hanya diam. Dia marah, kenapa saya dulu jual dia kepada orang Indonesia. Saya jelaskan kalau saya tidak jual dia. Saya minta dia menghubungi ibu angkatnya, sehingga saya bisa bilang ke dia kalau saya tidak pernah jual anak saya”, tutur sabina terharu.
“Aku mirip kok sama mamaku. Udah kayak ngeliat di kaca. Itu adalah kunci utama saya bisa kembali ke Timor karena muka saya sangat mirip sama mama saya. Aneh, satu keluarga saya nggak ada yang mirip sama mama. Cuma saya, dan saya yang dikasih ke orang. Mungkin kalau aku bilang, ini biar aku bisa kembali ke keluarga", sambung Alexhia bahagia.
Alexhia menghabiskan sepekan di rumah keluarga kandungnya, di Desa Ira Lafai, Lospalos, di ujung timur negeri itu.
Sejak itu hidup Alexhia Cordova da Silva Ximenes berubah.
Kamu ingin jadi warga negara Timor Leste?
"Oh saya sudah! Ada lho KTP-nya lhoo... e-KTP! Timor Leste sudah lebih maju ya dari Indonesia!"
Kini Alexhia tengah menyelesaikan kuliahnya di jurusan hukum, di salah satu universitas swasta di pinggiran Jakarta.... berbekal beasiswa dari Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao.
Dia bertekad kembali ke Timor Leste.
“Ketika saya datang ke Timor Leste, saya datang kan nggak cuma untuk ibu saya. Adik-adik saya masih kecil. I want the best future for them.”
“Kalau saya kembali ke Timor Leste, saya akan belajar mencintai Timor Leste. Karena saya baru ketemu Timor Leste. Ibarat pacar lah, kita kan belajar untuk mencintai dia. Semuanya membutuhkan proses, saya pasti akan kembali ke Timor Leste karena saya disekolahkan, dibiayai sama Timor Leste juga...”
Sabina Ximenes tak sabar menanti kepulangan anaknya... untuk selamanya...
“Karena mungkin setelah Alexhia selesai kuliah, saya sudah tua. Saya punya situasi juga tidak normal. Saya sakit terus, apalagi saya darah tinggi, siapa tau kita mati. Dia tidak tahu saya sudah meninggal. Makanya kalau dia datang, saya minta Tuhan... Tuhan tolong dia datang dekat saya.”
Alexhia beruntung karena berhasil bertemu kembali dengan keluarganya. Tapi masih ada ratusan keluarga lainnya yang masih kehilangan dan tak tahu ke mana harus mencari. Tunggu lanjutan Kisah Anak Timor yang Hilang, dari Dili, Timor Leste.
Audio:

