KBR68H - Kanker hingga kini masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi masyarakat. Apalagi jika penyakit ini harus dialami di usia dini. Tidak ada yang lebih dibutuhkan selain dukungan keluarga. Bagaimana harusnya pendampingan yang diberikan pada anak?Seperti apa pula pengalaman Saskia, remaja yang terkena kanker sejak usia 13 tahun berjuang untuk melanjutkan hidup?
Kisah Saskia
Saskia tidak pernah menyangka dirinya akan divonis terkena leukimia alias kanker darah di usia 13 tahun. Remaja yang kini berusia 18 tahun ini bercerita, awal terkena leukimia dia merasa pusing, lemas, dan muncul memar di badan. Saskia mengaku syok, apalagi sebelum divonis terkena kanker dia pernah membaca bahasan tentang kanker darah di majalah. Namun hidup harus dijalani, dia bangkit karena melihat banyaknya dukungan yang diterima terutama dari keluarga. Sang Bunda terus menguatkan dengan mengingatkan dirinya harus bangkit dan semangat karena keluarga akan selalu mendukung. Saskiapun kemudian mengikuti pengobatan, 5 bulan dirawat di rumah sakit kemudian hingga kini secara rutin memeriksakan diri ke rumah sakit.
Syok juga dialami sang bunda. Namun tekad yang kuat menyembuhkan anak membuatnya tegar terus mendampingi Saskia. Taufik, sang ayahpun mengaku limbung saat mendengar anaknya terkena kanker. Sebagai orang awam yang belum mengetahui banyak tentang kanker, ia ragu Saskia bisa disembuhkan. Belum lagi masalah biaya dan anak-anak yang terbengkalai karena fokus merawat putrinya itu.
Taufik kini aktif di Yayasan Onkologi Anak Indonesia, sebuah lembaga tempat para orang tua yang memiliki anak penderita kanker berkumpul. Ia bercerita, kala anak terkena kanker, masalahpun menjadi merembet ke banyak lini kehidupan. Seperti orang tua yang dipecat dari pekerjaan karena tidak fokus bekerja akibat sibuk mengurusi anak, orang tua yang sibuk mencari uang untuk pengobatan sehingga menelantarkan anak yang justru butuh perhatian sampai orang tua yang bercerai karena anak menderita kanker.
Kanker Pada Anak
Haridini Intan, dokter kanker dari Rumah Sakit Dharmais Jakarta menyatakan, perkiraan saat ini sekitar 150 anak menderita kanker dari 1 juta anak sehat. Pada tahun 2006, dokter yang akrab disapa Tanti ini bercerita kebanyakan anak dibawa ke rumah sakit justru saat sudah stadium lanjut. Biasanya yang menjadi penyebab adalah pengetahuan yang terbatas dan masalah biaya.
Menurut catatan organisasi kesehatan dunia WHO, jumlah kasus kanker pada anak cenderung meningkat dibandingkan 2 dasawarsa terdahulu. Dari 6,25 juta kasus kanker baru yang terdiagnosis setiap tahunnya, 4 persen atau sekitar 250 ribu di antaranya adalah anak-anak.
Sementara itu data Yayasan Onkologi Anak Indonesia YOAI menyebutkan, di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 pasien kanker anak per tahun. Sedangkan di seluruh Indonesia, dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa diperkirakan terdapat kurang lebih 11.000 kasus baru per tahun. Sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu.
Tanti menambahkan, pada dasarnya semua kanker bisa disembuhkan. Asalkan cepat ditangani. Jika ditangani saat di stadium awal, maka kemungkinan bertahan dan sembuh bisa mencapai 85 persen.
Kanker bisa dikenali dari gejala, meskipun memang harus diperiksa oleh dokter untuk kepastian. Pada anak, kanker bisa dibedakan atas 2 jenis yaitu tumor padat dan leukimia. Keduanya bisa dilihat dari ciri-ciri seperti demam berkepanjangan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, nyeri sendi, perdarahan, bintik merah atau biru di tubuh, dan perut membesar. Sementara untuk tumor padat bisa dikenali dari ciri tambahan yaitu adanya benjolan.
Saat anak terkena kanker yang perlu dilakukan segera dilakukan orang tua adalah melakukan pengobatan. Taufik mengatakan, pengobatan dan pencarian keringanan biaya bisa dilakukan berbarengan. Berkisah dari pengalaman pribadi, Taufik bercerita orang tua bisa langsung meminta rujukan dari puskesmas untuk mendapatkan keringanan biaya melalui program jamkesmas atau jamkesda berikut pengobatan yang diperlukan. Bagi orang tua yang ingin bertanya ataupun mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perkumpulan orang tua anak penderita kanker bisa menghubungi Taufik, orang tua Saskia yang aktif di Yayasan Onkologi Anak Indonesia di nomor 021-98835988.

