KBR68H

    

Last update10:25:40 PM GMT

Cerita Cinta Enrico : Pergulatan Iman dan Sejarah

IlustrasiKBR68H - “Saya kenal Enrico 11 hingga 12 tahun. Dia suka menceritakan masa kecilnya kepada saya.” Demikian diungkapkan novelis Ayu Utami. Melalui novel terbarunya berjudul Cerita Cinta Enrico, Ayu menapaki petilasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia PRRI melalui sosok Enrico.

Seperti karya-karya Ayu sebelumnya, muatan spiritual turut terekam dalam novel itu. Pergumulan iman Enrico mengalir sepanjang belasan tahun selama kebersamaan Ayu dengan Enrico. Bak permainan puzzle, Ayu berhasil menyelesaikan ratusan cerita Enrico mulai dari proses spiritualnya, termasuk kecintaannya kepada sosok perempuan yang melahirkannya. Mengapa Ayu tertarik dengan sisi spiritualis?

 

“Saat nulis saya tidak sadar. Cuma setelah menerbitkan beberapa tulisan saya lihat ada tiga hal yang selalu muncul dalam novel saya. Tuhan, Sex, dan irasionalitas.  Tiga hal itu pula yang tidak bisa diterangkan dengan logika. Ketiga hal ini sangat memukau saya,” tutur Ayu.

Salah satu cerita Enrico adalah hubungannya dengan ibunya. Sosok ibu yang menjadi sangat kaku dalam beragama saat ia kehilangan kakak Enrico yang meninggal karena serangan asma usai bertamasya ke pantai dengan sang Ayah. Kematian menggugah penderitaan ibu Enrico.

“Ini persoalan dan pengalaman manusia. Bukan ajaran agama. Tapi bagaimana manusia mengalami penderitaan. Saya sering bertanya, kenapa agama nggak pernah mati? Karena memang manusia gelisah sekali dengan kematian, sehingga dia membutuhkan sebuah kepastian mengenai kehidupan setelah mati. Dan agama memberi itu.”

“Cerita Cinta Enrico” juga menggambarkan tentang peran agama dalam pengalaman dan penderitaan manusia. Menurut Ayu, agama sungguh penuh kasih. Ini karena agama sanggup memberi kepastian pada manusia yang lemah dan yang kuat.

“Ilmu pengetahuan hanya memberi rasa stabil pada manusia yang kuat. Tapi agama memberikan itu semua pada yang bodoh sekalipun. Dalam hal ini agama sangat murah hati untuk manusia demi mendapatkan keselamatan. Itu kelemahan manusia kenapa membutuhkan agama. Tetapi bahayanya, agama bisa mentolerir manusia untuk menjadi berkuasa.”

Novel yang ditulis dalam 2,5 bulan ini juga menceritakan perjalanan spiritual ibu Enrico saat bergabung dengan saksi-saksi Yehuwa. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Bagi Ibu Enrico, penderitaan kehilangan seorang anaknya menjadi alasannya agar dirinya paham benar tentang adanya hari kebangkitan di hari kiamat nanti. “Yang menarik buat saya, manusia bisa menderita dan membutuhkan pegangan.” Dan saat itulah saksi Yehuwa datang menyambut penderitaan ibu Enrico.

“Cerita Cinta Enrico” adalah kisah cinta pertama Enrico terhadap ibunya. Sayangnya, pasca kematian kakaknya, ibu Enrico memilih menjalankan agamanya secara kaku. Hingga suatu hari ibunya memaksa Enrico dibaptis sebagai Saksi Yehuwa. Saat itu pula, Enrico kecewa terhadap perempuan yang dikaguminya dan memilih untuk tidak beragama. “Paksaan itu justru membuat Enrico tak ingin beragama.”

“Dalam novel saya, orang-orang saksi Yehuwa adalah orang yang baik-baik dan jujur.”

Dalam “Cerita Cinta Enrico” Ayu Utami menyebut, Saksi Yehuwa sebagai agama yang lahir atas feodalistik agama Kristen sekte mayoritas. “Saksi Yehuwa muncul dengan trend modernitas. Kembali kepada teks, dan menganjurkan umatnya untuk kembali kepada teks. Yehuwa tidak memperkenankan umatnya jadi domba-domba bodoh, tapi harus jadi gembala. Ini yang menurut saya harus kita baca sebagai bagian dari reaksi feodalitas agama.”

Sosok Ayu Utami adalah feminis spiritualis kritis. Pengalamannya mengkritisi agama yang berujung pada keinginan mengkaji ulang agamanya menjadikan Ayu kerap memaparkan perjalanan spiritual figur dalam setiap karyanya. “Masa kecil suka baca alkitab, ke gereja dan tertarik dengan dunia itu. Tapi satu sisi saya ingin mengkritik dan pada satu titik ingin meninggalkan agama di usia 20an.”

Tags:     Ayu Utami      Cerita Cinta Enrico

blog comments powered by Disqus