KBR68H

    

Last update10:25:40 PM GMT

Satu Tahun Tragedi Cikeusik, Pulihkan Warga Ahmadiyah

KBR68H, Jakarta - Trauma itu masih membekas layaknya bekas paku yang terbenam dalam papan. Setahun lalu, tanah Desa Cikeusik, Banten, berlumuran darah. Sekira seribu orang menyerang perkampungan Ahmadiyah. Membabi buta. Membantai jemaat Ahmadiyah. Tiga orang tewas, sementara lima korban pembantaian lainnya mengalami cacat permanen.

Warga Ahmadiyah yang sebelumnya tinggal di Desa Cikeusik masih belum berani kembali ke kampung halamannya, hingga kini. Peristiwa pembantaian itu terlalu keji untuk dilupakan. Dari kejadian ini, anak-anak yang paling telak mengalami trauma.

"Ada seorang anak, usia 5 tahun, saksi mata tragedi Cikeusik. Saya minta menggambar. Apa yang dia gambar, itu sangat detail. Begitu jelas gambar mayat-mayat tergeletak itu dilukisnya. Ia sering sekali terjaga dari tidurnya," ungkap Lilies Aisyah Kamil, Ketua Umum Perempuan Ahmadiyah.

Itu salah satu cara yang dilakukan Lilies untuk mengobati trauma anak-anak Ahmadiyah. Melalui gambar, ia meyakinkan anak-anak dan ibu-ibu Ahmadiyah, agar tetap bersabar dan berdoa agar peristiwa satu tahun lalu tak terulang. Menyemangati mereka untuk tetap hidup dalam keberagaman.

Lilies Aisyah Kamil juga mengajari anak-anak dan ibu-ibu Ahmadiyah untuk jeli melihat situasi. Di lingkungan masyarakat tertentu, mengungkapkan identitas diri sebagai warga Ahmadiyah adalah mengundang maut. "Pelan-pelan kami ajarkan pada anak-anak dan ibu-ibu, supaya mengerti dengan kondisi sekitar. Mereka juga harus bersabar bila ada diskriminasi dari lingkungan terhadap Ahmadiyah," ungkapnya.

Pasca tragedi Cikeusik, warga Ahmadiyah di seluruh tanah air begitu ketakutan. Penyerangan-penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah makin meningkat. "Ya, setelah kejadian di Cikeusik, berdampak juga kepada penyerangan Ahmadiyah di daerah lain. Bahkan, sampai sekarang ada saja warga Ahmadiyah yang diintai," ungkap Hafiz Qudratullah anggota Komite Hukum Jemaah Ahmadiyah Indonesia.

Jemaat Ahmadiyah terus melakukan pemulihan trauma, seperti berbaur kembali dengan masyarakat. Mereka kembali membangun hubungan sosial. "Saya ini Ketua RT, dan bisa diterima masyarakat sekitar. Masyarakat tahu saya ini Ahmadi, tapi saya bisa diterima. Yang jelas kami ini mau bergaul, bekerjasama dengan masyarakat. Donor darah, atau bergotong royong," ungkap Hafiz.

Meski pembauran dengan masyarakat terus dilakukan, akan tetapi masih ada saja persoalan. Umpatan sebagai golongan ekslusif dari ormas-ormas radikal menjadikan warga Ahmadiyah tersudut pada lingkungan sosial. Lilies bercerita suatu ketika jemaat Ahmadiyah melakukan bakti sosial, akan tetapi penerima tak mau menyebutkan keterlibatan Ahmadiyah di dalamnya. "Mereka hanya mau ambil barangnya. Mereka hanya ambil cinderamata-nya, tak mau menyebutkan keterlibatan Ahmadiyah. Tapi kami akan tetap melakukan itu," cerita Lilies.

Menurut Choirul Anam aktivis dari Human Right Working Group (HRWG), kunci menghilangkan diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah berada ditangan presiden. Melalui presiden, bisa dikuatkan kebijakan-kebijakan yang tidak mendiskriminasi warga Ahmadiyah. Selain itu, pemahaman tentang toleransi beragama pada masyarakat perlu digenjot. "Pada masyarakat kita tanamkan pendidikan sikap toleransi serta mengutuk tiap aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama," ujarnya.

Tags:     cikeusik      Ahmadiyah

blog comments powered by Disqus