KBR68H - Tes membaca menulis dan menghitung sepertinya menjadi suatu kewajiban bagi anak usia dini yang hendak masuk sekolah dasar. Padahal, tidak ada peraturan yang mewajibkan anak usia dini harus bisa membaca menulis dan berhitung apabila akan masuk sekolah. Penerapan tes ini dinilai sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak anak untuk sekolah.
Keputusan Sekolah Dasar, SD menerapkan sistem ujian baca, tulis, hitung, Calistung dalam proses penjaringan calon siswa baru, disesalkan sejumlah orang tua murid. Salah satu Orang Tua, Ipung menilai, sistem itu merupakan bentuk pengabaian hak-hak anak untuk bersekolah.
Tidak menuntut besar kemampuan anak anak. Dunia bermain pada anak-anak harus diberikan. Ibu setuju dengan adanya test tulis?, Saya tidak setuju dengan adanya test tulis. Untuk usia pra sekolah itu dunia bermain dunia anak-anak milik anak-anak dimulai 0-6 tahun. Mereka hanya dibukakan kondisi untuk aspek afrektif dan aspek sikomotorik. Jangan sampai anak itu mendapat underpresure yang tinggi.
Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengatakan tidak sepantasanya anak usia dini harus dihadapkan dengan ujian kompetensi untuk persyaratan masuk sekolah tertentu. Seto menilai sistem ini sangat keliru dan hanya akan membuat anak semakin tertekan.
Itu memnag mengurangi masa bermain anak. Karena dunia anak itu taman bermain. Ini kalau dipaksakan, diberikan pada kita apalagi diberikan secara keliru. Akibatnya anak kehilangan waktu bermain, dan anak stress dan pobia kepada sekolah. Ini tentu akan membuat permaslaahan sikologis yang mendalam lagi kepada anak.
Kata Seto Mulyadi, dunia anak adalah dunia bermain. Karena itu, anak-anak usia dini harus diberikan kebebasan untuk bermain. Dia menilai, anak-anak usia dini tidak bisa dipaksakan untuk berpikir keras seperti membaca, menulis dan berhitung. Karena, anak-anak di bawah usia tujuh tahun belum prnya kemampuan untuk menganalisa hal-hal yang abstrak.
Terkait dengan hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan himbauan agar sekolah-sekolah tidak menerapkan sistem Calistung bagi calon peserta didik yang akan masuk kelas 1 SD. Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sukemi mengatakan, tidak ada alasan anak usia sekolah ditolak oleh sekolah tertentu dengan alasan tidak bisa baca.
Masa-masa pendaftaran dimulai, kita suadah mengingatkan kepada guru dan orang tua, para penyelengagra pendidikan . Saya ingatkan loh ya untuk anak-anak yang masuk sekolah SD itu tidak wajib dan tidak ada ujian yang sulit itu. Sepanjang anaknya sudah masuk usia sekolah, maka tidak ada alasan apapun untuk menolak atau tidak menerima anak itu karena tidak bisa baca dan menulis.
Pengamat pendidikan Arief Rahman mempunyai pandangan yang berbeda. Menurut dia, tes membaca menulis dan berhitung bisa saja diterapkan dalam proses penerimaan siswa baru. Namun, tes tersebut hanya sekadar untuk mengetahui kemampuan anak dan bukan sebagai syarat untuk masuk sekolah.
Memang TK kelompok bermain dan tidak ada test itu. Yang paling penting siap untuk sekolah. Tetapi kadang ada anak yang sudah bisa. Tetapi jangan dijadikan sebagai syarat untuk masuk. Sedangkan kalau hanya melihat kemampuan saja boleh. Ya, silahkan.
Arief mengingatkan, program pembelajaran di Taman Kanak-kanak itu lebih ditekankan kepada aktifitas bermain dan pembentukan karakter. Sehingga, anak-anak usia dini tidak dituntut untuk bisa membaca, menulis dan berhitung.
Audio :


