KBR68H - Tak berlebihan jika Kota Malang di Jawa Timur dicanangkan sebagai Kota Industri Kreatif 2011. Kota ini menyimpan anak muda pelaku industri kreatif. Sebagian di antaranya sudah menghasilkan aneka produk kreatif yang mendunia. Tapi sebagian lainnya terpuruk tak kuasa menghadapi mahalnya bahan baku hingga akhirnya tutup usaha. Baik yang sukses maupun yang mati, keduanya punya kesamaan, berjuang sendiri memperkenalkan usahanya.
Di salah satu sudut Kota Malang, Jawa Timur, berdiri sebuah industri kecil makanan olahan berbahan baku tempe.
“Yang brownis tempe itu juga gitu, idenya dari potongan e itu waktu di slise itu kan banyak remukan ,kalau dikasi ketetangga untuk ibuat makanan khas malang mendol sudah bosen , akhirnya saya jemur, trus saya giling, nah sudah digling kan jadi tepung, nah dari tepung itu lalu timbul idenah itu jadinya dibikin brownis tempe itu”
Namanya Anik Suryani atau akrab dipanggil Ibu Noer. Dialah pemilik usaha makanan olahan itu. Dari tempe, Ibu Noer bisa menyulapnya menjadi aneka jenis makanan lainnya, mulai dari brownis seperti yang ia tuturkan barusan, hingga ke jenis lain seperti kripik tempe aneka rasa. Hasil kreativitasnya sebagai pengusaha makanan olahan sudah terpasarkan hingga mancanegara. Selain para turis itu datang sendiri ke tempat usahanya, ada juga yang pesan dan minta antar. Ibu Noer juga gencar memasarkan lewat internet. Soal promosi, Ibu Noer tak mau bergantung pada Pemerintah, yang menurutnya tidak bisa banyak membantu urusan ini.
Ibu Noer hanya satu dari sekian banyak sosok kreatif dari kota yang dinobatkan sebagai Kota Industri Kreatif 2011 itu. Dengan luas 110 km persegi ini, Kota Malang termasuk kaya dengan aneka produk kreatif. Tak Cuma makanan ringan yang digeluti Ibu Noer, Kota Apel ini, sesuai namanya, banyak melahirkan pengusaha makanan olahan berbahan baku apel, mulai dari sari buah, kripik hingga jenang apel. Tak cuma makanan, Kota Malang juga ada usaha kreatif lainnya juga tumbuh seperti desain kaos kemalangan, keramik, batu-batuan dan multimedia.
Tapi, tampaknya tak berkembang sesuai harapan. Luqman Zaini, pengusaha desain kaos kreatif ini tersandung modal. Desain kaos kreatifnya, berupa pantun Jawa yang sarat nasehat, tak mampu melawan mahalnya harga bahan baku.
“kalo tentang kaos ini ya,kaos ini kebetulan karena di jawa khususnya ada sebuah pantun, pantun jawa timuran, namanya parikan itu saya buat kaosnya, kaos-kaos parikan jadi dengan baik dengan berbahasa jawa, indonesia maupun bahasa inggris na itu”
Luqman yakin, hasil desain kreatif kaos di Malang tidak kalah dengan kota besar lainnya yang sudah punya nama seperti Bandung misalnya.
“Kalau industri kreatif, sebenarnya kreatifitasnya sudah bagus Cuma perlu disosialisasikan lagi, sebenarnya kita tidak kalah dengan Bandung”.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang berjanji membantu para pelaku industri kreatif, di antaranya lewat sosialisasi. Kepala Disprindag Kota Malang Imam Santoso menilai, kekurangan dari kebanyakan para pelaku industri kreatif terletak pada pengemasan produk. Kemasan saat ini, menurutnya tidak menarik. Untuk itu, Disperindang menggandeng salah satu pusat pelatihan kemasan produk dari Jepang untuk memberikan pelajaran kepada para pelaku industri kreatif Kota Malang.
"SDM kita masih kurang, masih kurang dengan cara bagaimana untuk supaya sdm kita labih baik sdm kita ini, konsepnya bisa berubah lagi itu dengan cara pelatihan-pelatihan agar sdmnya ditingkatkan".
Menurut Imam, desain juga perlu terus digenjot. Misalnya produk-produk keramik dari pusat industri di Dinoyo. Desain produk keramik Dinoyo, menurutnya masih kalah dengan buatan Cina yang sudah mendunia. Ia tak memungkiri, sebagian produk kreatif Malang juga kian banyak yang mendunia, seperti kain baik dan aneka keripik.
Anggota Dewan tidak memungkiri ucapan pejabat pemerintah kota itu. Sekretaris Komisi Bidang Perekonomian DPRD Kota Malang Bambang Triyoso melihat ada banyak generasi muda Kota Malang yang sangat kreatif. Tapi, keberadaan mereka belum mendapat perhatian lebih dari pemerintah kota.
“Belum ada desain-desain yang unik atau apa yang bisa jadi tren di malang, menjadi ciri khas, punya ke khasan Kota Malang, itu yang musti dikembangkan, menjadi lebih dikenal ciri khas keramik kota Malang”.
Industri kreatif itu, menurut Bambang bukan hal sederhana. Industri ini sangat mengandalkan kreativitas dan inovasi yang tinggi. Untuk itu, sangat membutuhkan dukungan dari Pemerintah Kota, mulai dari permodalan, pelatihan hingga motivasi kreativitas dan pemasaran produk.
Audio :


