KBR68H - Hingga batas akhir penyerahan berkas dukungan kemarin, setidaknya ada tiga pasangan calon perseorangan yang menyatakan siap maju dalam pemilihan gubernur DKI 2012. Masing-masing calon mengklaim sudah menyerahkan bukti surat dukungan dan fotokopi KTP dengan jumlah minimal 4 persen dari total penduduk DKI atau 407,345 KTP. Tiga pasang calon perseorangan atau calon independen independen itu adalah Faisal Basri – Biem Benyamin, Prayitno Ramelan - Teddy Suratmadji dan pasangan Hendardi Soepadji - Achmad Riza Patria.
Meski sudah membawa berkas yang luar biasa banyaknya, tidak otomatis calon-calon non partai ini bakal lolos syarat administratif. Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI akan menghitung ulang surat dukungan itu sebelum melakukan verifikasi langsung ke lapangan selama 14 hari ke depan.
Proses verifikasi ini merupakan tahapan cukup krusial bagi para calon. Kalau ada dukungan ganda, misalnya 1 KTP yang sama ditemukan untuk dua pasang calon, maka KPU DKI akan langsung mencoretnya. Sikap KPU DKI yang pragmatis ini dinilai merugikan calon. Kenapa tidak ditanya dulu kemana dukungan para pemilik KTP itu diberikan?
Kedua, secara teknis proses verfikasi lapangan ini pasti akan rumit dan melelahkan. Kalau penghitungan surat dukungan dari tiga pasang calon independen ini sudah memenuhi syarat minimal, berarti bakal ada sekitar1,3 juta warga DKI yang harus ditanyai satu per satu. Ini berarti dalam sehari, petugas KPU DKI harus bertemu dengan 92,857 orang yang tersebar di 267 kelurahan. Berapa jumlah seluruh petugas yang dimiliki KPU DKI?
Dengan waktu yang sangat mepet dan harus menyelesaikan verifikasi lapangan secara langsung, KPU DKI memang harus ekstra hati-hati. Kalau tidak, para calon yang sudah susah payah mengumpulkan KTP pasti akan kecewa. Dampak politik dan sosialnya akan besar kalau tak ada kerjasama yang baik dengan masing-masing tim sukses.
Lebih dari soal kerumitan proses verifikasi, munculnya calon independen untuk pemilihan gubernur DKI ini memang merupakan sejarah baru di Jakarta. Inilah untuk pertama kalinya, kandidat dari partai politik akan berhadapan secara langsung dengan calon non partai. Warga Jakarta yang selama ini mengeluh tentang berbagai masalah seperti banjir, kriminalitas dan kemacetan lalu lintas, pada 11 Juli nanti akan bisa memilih siapa pasangan calon yang menurut mereka paling layak memimpin ibukota. Di tengah krisis kepercayaan kepada partai politik dan calon-calon yang mereka usung, munculnya kandidat dari jalur independen tentu bakal membawa suasana lain. Minimal ada harapan baru di tengah rasa frustrasi warga atas berbagai masalah yang membelit ibukota selama ini.
Harapan baru. Itulah satu-satunya yang masih dimiliki warga republik, termasuk warga Jakarta, sekarang ini.


