KBR68H

    

Last update10:08:42 PM GMT

Yawadwipa dan Rencana Akuisisi Bank Century

IlustrasiKBR68H - Jika perusahaan belum genap sebulan berdiri dan siap menggelontorkan dana Rp 6,7 trilliun lebih untuk membeli bank yang pernah dianggap bermasalah, apa yang ada dalam bayangan anda? Bertanya-tanya? Curiga?

Yawadwipa, perusahaan yang baru berdiri pada 9 Januari lalu,  berani  membuat  kehebohan di dunia keuangan setelah menyatakan keinginannya membeli 100 persen saham Bank Mutiara. Bank Mutiara adalah nama baru bekas bank Century. Nilai penawarannya setara dengan dana yang dikeluarkan pemerintah untuk menyelamatkan Bank Century berikut bunganya.

 

Pengamat ekonomi Tony Prasetiantono meyebut langkah Yawadwipa itu sangat tidak masuk akal. Kinerja Bank Mutiara memang membaik. Bahkan bisa membukukan untung Rp 291 miliar tahun lalu. Tapi dengan keuntungan sebesar itu, perlu waktu 20 tahun bagi Yawadwipa untuk balik modal. Kalau pun ada percepatan keuntungan karena kinerja yang luar biasa, tetap butuh waktu lama, sekitar 10 sampai 12 tahun untuk kembali modal. Jelas tidak efektif untuk sebuah bisnis yang ingin balik modal secepatnya.

Motif di luar bisnis, itulah dugaan Tony Prasentiantono, tentang rencana Yawadwipa membeli Bank Mutiara. Kalau pun masih ada urusannya dengan duit, Tony menduga berkaitan dengan pencucian uang.

Motif lain di luar bisnis, ya politik. Misalnya menghentikan perdebatan tentang aksi penyelamatan Bank Century yang oleh DPR masih dianggap bermasalah. Ini karena masih banyak yang menilai tindakan menyelamatkan Bank Century sebagai bentuk kerugian negara. Kalau kemudian ada pihak lain yang berani membeli bank itu senilai dana talangan yang sudah dikeluarkan, berarti unsur kerugian menjadi tidak relevan.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mengaudit proses bail out Bank Century memang pernah menyebut terjadinya kerugian keuangan negara senilai Rp 6,7 triliun. Bagi politisi Senayan, dua tokoh yang dianggap paling bertanggung jawab dalam kasus ini adalah bekas Menteri Keuangan Sri Mulyani yang kini bekerja untuk Bank Dunia. Lainnya adalah bekas Gubernur Bank Indonesia Boediono yang kini menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden SBY.

Pernyataan terbuka perusahaan Yawadwipa yang ingin membeli Bank Mutiara memang menimbulkan banyak tanda tanya. Selain baru berdiri, siapa investor di belakang Yawadwipa juga belum jelas.

Karena itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemilik Bank Mutiara harus melakukan kajian mendalam tentang profil Yawadwipa sebelum memutuskan untuk menjualnya. Rekam jejak Yawadwipa, atau siapa pun yang berniat membeli Bank Mutiara, harus diketahui publik.

Sudah cukup lama publik disandera konflik politik antara pendukung kebijakan bail outBank Century dengan mereka yang menentangnya. Publik sudah lelah. Jangan sampai proses Bank Mutiara ini kelak melahirkan masalah baru. Kita tbutuh sensasi lagi.

Tags:     bank mutiara      yawadwipa

blog comments powered by Disqus