KBR68H - Bakrie Group, kelompok usaha milik Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie kemarin membeli seluruh saham klub sepakbola Australia, Brisbane Roar. Sebelumnya, Bakrie juga memiliki saham di klub sepakbola Uruguay dan Belgia.
Kepemilikan Bakrie atas klub-klub asing seharusnya bisa menjadi pintu masuk bagi para pemain sepakbola nasional untuk berlatih dan bermain di negara lain dengan kompetisi lebih baik. Harapannya pemain-pemain yang berlatih di negara lain itu bisa meningkatkan prestasi tim nasional.
Sayangnya untuk saat ini, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Kompetisi di tanah air saat ini terpecah akibat konflik berkepanjangan.Kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) disokong penuh oleh Aburizal Bakrie. Sedangkan di sisi lain Liga Primer Indonesia disokong badan sepakbola Indonesia (PSSI). Satu kubu berusaha menghilangkan kubu lainnya. Pengelola LSI mengatakan hanya akan mengirimkan pemain yang berlaga di kompetisinya untuk berlatih di klub asing milik keluarga Bakrie. Sedangkan PSSI melarang semua pemain LSI berlaga di tim nasional.
Padahal sebenarnya, jika energi itu disatukan dampaknya bisa dirasakan semua masyarakat Indonesia. Apalagi sepakbola adalah olahraga paling digemari di negeri ini.
Bekas Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela pernah mengatakan, olahraga punya kekuatan untuk “mengubah dunia...memberikan inspirasi..dan mempersatukan.” Ia membuktikan ucapannya ketika Afrika Selatan secara mengejutkan menjuarai piala dunia rugby pada 1995.
Sebelum piala dunia rugby, Afrika Selatan adalah negara yang baru saja bebas dari politik apartheid, politik diskriminasi terhadap warga kulit hitam. Merupakan pekerjaan berat bagi Nelson Mandela untuk mempersatukan warga kulit hitam dan putih yang sudah lama terpecah dan saling curiga.
Ia lalu menggunakan rugby, olahraga yang paling digemari di Afrika Selatan untuk mempersatukan negerinya. Ia mendukung habis-habisan tim nasional rugby supaya bisa meraih prestasi. Pada akhirnya setelah prestasi diraih, warga Afrika Selatan berpesta bersama. Selama beberapa saat mereka melupakan perbedaan warna kulit yang selama ini membuat mereka hidup bermusuhan.
Sepakbola di Indonesia harusnya punya peluang medium serupa rugby di Afrika Selatan. Sayangnya kepentingan politik terasa terlalu kental dalam pengelolaan sepakbola. Pada akhirnya yang terjadi adalah konflik terus menerus. Tidak ada yang benar-benar berusaha agar sepakbola menjadi kebanggan bersama.
Jika semua pihak memang benar berniat memajukan sepakbola, seharusnya konflik seperti yang ada saat ini tidak akan pernah terjadi.


