KBR68H - Di tengah banyak warga Indonesia yang berobat ke luar negeri yang mahal, ternyata di Indonesia ada rumah sakit yang murah dan berkualitas. Termasuk Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi, Jawa Timur. Tahu berapa biaya berobat di sana? Cukup 5.000 rupiah. Di sejumlah daerah sekarang juga mulai dibangun rumah sakit tanpa kelas, atau rumah sakit pratama. Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedianingsih, membahas rumah sakit murah dalam perbincangan berikut ini.
RS pratama itu dibangun pemerintah atau swasta?
Tidak mendirikan rumah sakit murah. Jadi Rumah Sakit Pratama adalah rumah sakit yang tidak pakai kelas, semua kelas III dan nanti ini akan melayani pasien-pasien jaminan kesehatan. Jadi diharapkan pasien yang ke sana pembayarannya dibayar oleh pemerintah, jadi bukan murah tapi dibayar oleh pemerintah.
Kita tahun 2014 itu akan memulai Sistem Jaminan Sosial Nasional, dimana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terutama BPJS 1 sebetulnya menyelenggarakan jaminan kesehatan, jaminan kesehatan kerja, jaminan kecelakaan. Kemudian tahun 2014 yang mulai berfungsi lebih dahulu adalah jaminan kesehatan, karena sekarang memang sudah berjalan. Tapi kalau kita mau terlaksananya SJSN itu di tahun 2014, jumlah tempat tidur yang kelas III itu kurang. Jadi dalam waktu kurang dua tahun ini kita mengupayakan untuk menambah, caranya adalah yang pertama rumah sakit pemerintah baik itu pusat, provinsi maupun kabupaten/kota sedapat mungkin kita minta menambahkan kapasitas kelas III entah dia bangun ruangan baru dengan tempat tidur baru atau dia proporsinya yaitu kelas II dikurangi.
Kemudian kedua, Puskesmas yang di tempat ramai dan layak itu kita tingkatkan menjadi Puskesmas perawatan, bisa rawat inap, penyakit-penyakit yang bisa ditangani di Puskesmas. Ketiga adalah dengan cara membuat Rumah Sakit Pratama, ini ada dua jenis, ada Rumah Sakit Pratama yang bed-nya cuma sepuluh dan sistem pembangunannya itu dengan bahan-bahan yang jadi seperti knock down.
Jadi dalam 2-3 bulan sudah jadi rumah sakitnya , sepuluh tempat tidur tapi lengkap ada laboratorium, ruang operasi, dan sebagainya. Seperti ini terutama kita dirikan di tempat-tempat perbatasan, di kepulauan yang penduduknya tidak begitu banyak. Jadi kalau bikin rumah sakit besar agak tidak efisien tapi tetap perlu, kita bikin rumah sakit yang seperti ini.
Itu sudah dimulai pada tahun ini?
Sudah ada 24 rumah sakit yang didirikan. Jadi ini beberapa rumah sakit sudah didirikan dari menteri sebelum saya, sekarang saya lanjutkan dan tahun ini ditambah, tahun ini tambah lagi 14.
Jadi sudah lengkap di hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia?
Jadi provinsinya kita pilih, kalau di Jawa tidak perlu rumah sakit yang seperti itu.
Tapi ironisnya walaupun sudah banyak dibangun rumah sakit banyak pasien kita yang justru berobat, misalnya di negara tetangga Singapura yang juga sempat dilansir oleh pemerintah ya?
Iya itu di daerah-daerah perbatasan ataupun di kota-kota besar yang punya uang. Kalau di daerah perbatasan karena jarak, karena rumah sakitnya kita belum buat terus dia mau ke rumah sakit jauh, mendingan ke perbatasan. Jadi kita harus melhat juga hal seperti itu, karena itu kemarin saya ke Sintang kita buat di sana. Kemudian nanti ada lagi, tahun ini di Kalimantan Timur, harapan kita ini bisa menyedot supaya pasien jangan ke sana, tapi jangan lupa di beberapa daerah perbatasan justru yang dari negara tetangga yang berobat di kita.
Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi baru dapat penghargaan Hospital Management Award 2010 di Korea Selatan. Apakah kita bisa juga banyak membangun rumah sakit seperti Rumah Sakit Yasmin dengan kualitas pelayanan baik tapi harganya murah terjangkau masyarakat tak mampu?
Bisa. Jadi selain kita mendirikan fasilitas terutama adalah SDM-nya, kadang-kadang fasilitasnya tidak bagus tapi kalau SDM-nya profesional, ramah, sangat perhatian kepada pasien. Selain tiga tadi, ke empat adalah mengajak rumah sakit swasta supaya ikut program Jamkesmas, sekarang belum semua yang ikut Jamkesmas. Kalau semua swasta ikut, jadi lebih banyak lagi yang bisa menyediakan pelayanan yang bagus tapi dibayari oleh pemerintah.
Soal yang di Yasmin bisa berbiaya murah, kira-kira RS Pratama bisa menerapkan konsep seperti itu?
Kalau yang rumah sakit biayanya dibiayai pemerintah, itu hitungannya memang memakai hitungan yang tidak dilebihkan begitu, jadi betul-betul yang diperlukan. Jadi yang betul-betul diperlukan, itu untuk menjaga kendali dia supaya obatnya tidak macam-macam. Tapi obatnya yang diperlukan yang efektif tapi bukan yang harganya mahal, jadi bisa kita tekan biaya dengan cara itu.
Berarti selama ini suka ada obat yang dilebih-lebihkan untuk menambah biaya?
Saya tidak menyangkal kalau di beberapa rumah sakit itu ada dokter-dokter yang bekerjasama dengan distributor obat, mungkin karena diberi apa sehingga dia kemudian meresepkan, padahal obat itu mahal. Ada kita buat Permenkes untuk membatasi protes, jangan promosi yang berlebih-lebihan kepada dokter.




